nulis random

30. Dibalik No. 28

Jumat, Juni 30, 2017

Ketika postingan ke-28 isinya tentang dibalik postingan ke-25, lama-lama jadi merambat dan gitu aja terus nggak berhenti-berhenti. Iya, ini masih bahas tentang Jumbling July dan apakah Rasya bakal ikut atau enggak. (Jangan pakai sudut pandang orang ketiga, Sya.)

Kayaknya aku nggak bisa ikut deh. Soalnya bulan Juli itu tabrakan sama ....


Yap. Camp NaNoWriMo. Bulan April kemarin aku belum memenuhi target soalnya, jadi Juli ini aku coba ikut lagi! Harus bisa. :") Dan ada dua tantangan yang sama-sama bulan Juli, aku nggak mungkin ikut dua-duanya, nanti ambruk. :") Walaupun itu artinya mungkin Bleepy bakal aku anggurin selama sebulan, tapi Bleepy-nya sudah maklum kok. :")

... Ini pendek. Demi apa postingan terakhir #NulisRandom2017 kenapa menyedihkan begini sih, tapi aku ada deadline buat besok jam sembilan pagi, mau nyicil aja sekarang, jadi maafkan aku ; v ;)7

gak berlabel

29. Mind Palace

Jumat, Juni 30, 2017

Pernah denger soal "Mind Palace" alias Istana Pikiran, nggak?

Sebenernya biasa disebut Memory Palace Technique, tapi kalau yang nonton Sherlock pasti lebih familier sama sebutan Mind Palace ini. XD Tapi karena aku nonton Sherlock duluan sebelum tahu apa itu Memory Palace kayak yang aku baca di sini, apa yang aku pikirkan agak beda sama definisi aslinya.

Sherlock selalu bawa Mind Palace-nya ke mana-mana. Seperti apa yang dikatakan Tuan Magnussen di kasus His Last Vow, "Mengetahui adalah memiliki," dan apa yang aku tangkap dari komik Kungfu Boy (Sya, kamu sadar nggak kalau Sherlock dan Chinmi itu jauh banget?) waktu Chinmi bilang dasar dari menguasai pengetahuan adalah dengan menghayatinya, sebenarnya Mind Palace itu bisa dilakukan orang-orang biasa juga, walaupun nggak semaksimal itu.

Jadi gampangnya, yang dimaksud Mind Palace ini adalah ketika kita bisa membayangkan sesuatu, yang seolah-olah tampak nyata, padahal sebenarnya nggak ada; intinya tentang imajinasi.

re-watch scene ini berkali-kali. :"))
Seorang penyuka matematika yang bisa melakukan perkalian tiga digit dengan tiga digit tanpa coret-coretan, dia cukup menerawang dan di depannya dia ada angka-angka yang nggak bisa dilihat orang lain; angka-angka yang mengambang di udara itulah Mind Palace-nya dia. Seorang pemusik yang jari-jarinya bisa seperti sedang bermain di atas piano; piano itulah Mind Palace-nya dia.

Kalau kita sudah terlalu menyukai suatu hal, sampai menghayatinya, kita bisa membayangkan objek itu ada, persis dalam ukuran aslinya. Seenggaknya, secara kasar, itulah definisi Mind Palace. Atau artinya adalah istana pikiran; semua itu hanya nyata di pikiran kita. Orang lain nggak bisa melihatnya.

Aku baru ngeh kalau aku punya sedikit Mind Palace itu waktu tanggal 25 Februari 2016 di ruang TIK pas kelas 2 SMA. Satu komputer untuk satu-dua anak, dan aku kebetulan dapat komputer yang paling belakang. Komputernya nggak masalah sih, yang jadi masalah tuh keyboard-nya. Karena huruf-hurufnya sudah diacak; A jadi H, L jadi G, dan lain-lain, hampir semuanya keacak-acak.

Awalnya aku kesusahan. XD Terus pas aku coba ngetik cepet, aku baru sadar kalau yang perlu aku lakuin tuh tinggal natap layarnya aja, nggak usah mastiin dengan lihat keyboard aku neken huruf yang bener apa enggak, karena semua hurufnya nggak ada yang pas. Aku perlu ngehafalin susunan huruf-huruf yang bener, dan itu ternyata udah kecetak di pikiranku, jadi aku nggak mikir panjang dan langsung ngetik.

Aku kaget banget pas aku ternyata bisa! XD Lama-lama aku jadi keasikan, kan. Kalau netbook-nya perlu dicas dan nggak bisa kubawa-bawa, aku jadi suka main ngetik-ngetikan, jariku neken-neken huruf di keyboard yang cuma kebayang jelas di kepalaku. Begitu aku tahu soal Mind Palace dari hasil nonton Sherlock, aku jadi kepikiran kalau ternyata ini asik banget.

Lalu aku nonton Shigatsu wa Kimi no Uso yang dijadiin Drama Jepang, pas bagian Kousei 'main piano virtual' di atap sekolah. Atau pas dia lagi latihan di belakang panggung sebelum lomba. Gimana piano kayak ada di depannya, tapi orang-orang yang lewat cuma tahunya kalau dia lagi main piano-piano-an, padahal dalam pikirannya Kousei, piano itu beneran ada.

Piano itulah Mind Palace-nya Kousei. :")

Kalau di kasusnya Sherlock dan Tuan Magnussen, atau definisi Memory Palace, artinya lebih luas, sih. Tuan Magnussen tuh hebatnya kayak dia 'menciptakan' objek baru. Dia punya pengetahuan-pengetahuan, lalu dia ingat, dan di pikirannya berasa kayak kumpulan pengetahuan itu dikliping jadi satu, dibuat buku. Yang perlu dia lakukan kayak 'baca buku virtual', ya dia berlagak lagi ngebalik halaman dari buku di tangan, yang nggak bisa dilihat siapa pun kecuali dia sendiri.

mr magnussen nunjukin mind palace-nya dia ke sherlock dan john.
Hebatnya orang-orang dengan Mind Palace kayak gitu tuh, mereka bisa bener-bener 'nyimpen' di otak dan suatu saat bisa dibuka lagi. Keren banget, nyebelin asli, gimana coba caranya. :)) Kayak semuanya ada di kepala, dan ini bikin penasaran karena sebenernya kita bisa-bisa aja ngelakuin hal yang sama.

Masalahnya aku belum sampai tahap situ. Aku baru bisa membayangkan ada laptop persis seurutan QWERTY-nya di hadapanku. Tapi otomatis laptopku bakal langsung kesetel buka Office Word dan aku tinggal ngetik. Itu pun ngetik asal aja, aku belum bisa lalu bayangin seolah di layar laptopnya ada rentetan kalimat dari apa yang barusan aku ketik. Aku belum bisa klik Ctrl+S dan bikin dokumen itu bener-bener kesimpan di laptop itu.

Setiap kali aku ke Mind Palace-ku, laptop itu seolah kayak baru; isinya masih kosong. Aku harus ngisi dengan kalimat yang bakal aku lupain lagi. Yap, begitulah, ide yang tiba-tiba kelintas kalau nggak langsung dicatat aja bisa hilang begitu saja, gimana mau nyimpen sesuatu di bagian otak dan ngebuka lagi saat diperlukan? TvT

Kalau Mind Palace-nya Sherlock juga sama, dia butuh konsentrasi dan nggak boleh ada seorang pun yang melintasi zonanya. Makanya kalau Sherlock bilang ke John dia butuh berada di Mind Palace-nya, John praktis bakal langsung pergi. XD

h0w.
Sherl, dirimu bisa gampang banget gitu ... duh harus sepinter kamu dulu ya. :")

nulis random

28. Dibalik No. 25

Kamis, Juni 29, 2017

Ini tentang #JumblingJuly.


Aku ngasih tulisan itu persis setelah aku download posternya di Google Drive. Jadi ... iya, jelas bukan tiga hari yang kita butuhkan untuk menunggu datangnya tanggal satu Juli, dan aku sebenernya bisa ngedit, tapi ... yang penting poinnya dapet kan, ya? XD (Bilang aja males, Sya.) Harusnya tulisan "Three Days to go! :)" itu diganti sama judul postingan tiap hari buat #JumblingJuly besok. Maaf, Teh Ran. TvT)7

The big question. Bisakah Rasya ikutan #JumblingJuly?

Sementara #nulisrandom aja sudah kelabakan. Sekarang sudah tanggal 29 dan ini postingan buat hari ke-28, semalam Rasya beneran ngebut sampai nggak tahu deh, ini postingan bener-bener random karena Rasya bahkan nggak baca ulang tulisan sendiri. Oke, ngutip apa yang dikatakan Cisco Ramon, jangan ngomong dengan sudut pandang orang ketiga karena itu mengerikan, jadiiii oke aku ganti sekarang.

Karena prompt Jumbling July-nya berlaku tiga hari, mungkin kalau aku ngeles (?) ngeposting tiga hari sekali masih nggak papa, ya. Yang penting kan memenuhi semua prompt? Anggap aja tanggal satu sampai tiga nulis tentang buku, dan semuanya aku gabung di tanggal tiga, aku bikin tiga postingan sekaligus tentang buku semua ... kan bingung. (...)

Semisal aku kuat, semoga aku bisa komplet tiga puluh satu hari deh. :"D

Ada yang mau ikutan juga biar kita sama-sama berjuang? XD

nulis random

27. Dua Dari Dua: The Writer (?)

Kamis, Juni 29, 2017

Penggalan ceritanya bisa dibaca di sini. Dan postinganku ini bukan buat melanjutkan ceritanya, maaf ya. XD Seperti biasa (walaupun aku baru melakukannya satu kali) setelah selesai cerpen satu, aku bakal cerita latar belakang kenapa cerpen ini bisa ada. Nah, persis kayak alasan yang sebelumnya, lagi-lagi ini hasil mimpiku.

Aku masih inget waktu kelas 2 SMP pas pelajaran membatik di luar kelas, sahabatku, di depan temen-temen sekelas yang lagi membatik, bilang mau nunjukin aku sesuatu. Aku nggak mikir apa-apa, aku cuma ngira kalau seenggaknya mungkin bukan hal yang buruk, dan ternyata dia ngeluarin serangga yang jadi fobiaku banget, banget, BANGET.

Untungnya aku terlalu syok sampai cuma bisa memalingkan muka, tapi sumpah waktu itu, kalau nggak inget aku lagi di depan temen-temenku dan kalau nggak denger suara ketawanya mereka, rasanya kayak kena setrum. Aku kayak perlu mikir dulu buat harus menggerakkan anggota badan, dan beberapa malam setelah kejadian itu, aku mimpiin serangga itu dalam ukuran yang besar, di depan pintu kamar, dan kepalanya bahkan seukuran pintu.

Sampai sekarang aja aku masih kebayang gimana ngerinya. Temen sekelasku pas kelas 2 SMA, tepat hari ulang tahunnya, seisi tasnya dikasih benda fobianya dia dan aku denger dari mereka kalau dia langsung teriak, banting laptop, dan kabur. Akhirnya aku sama dua sahabatku ngeberesin karena mereka-mereka juga cuma main tinggal pulang aja, dan sebenernya aku ngelakuin itu lebih buat ke diriku sendiri. Fobia tuh, ya, fobia. Nggak bisa dibuat mainan, sekoplak apa pun fobia itu.

Hubungannya apa sama mimpi dan cerpenku?

Aku kebawa mimpi karena sebelum tidur aku baca ulang chattingan-ku sama sahabatku, dan terus aku inget kejadian pas kelas 1 SMA yang aku nggak bisa lupa. Waktu itu aku sama dia lagi bareng temen-temen yang lain, di luar gerbang, entah lagi ngomongin apa, sampai lalu salah satu temenku nuding kerudungku, "Ras, di kerudungmu ada #####!"

Nggak mungkin bohong di saat-saat kayak gitu.

Waktu langsung berjalan lambaaaat banget, aku kayak kena setrum virtual lagi, walaupun aku tahu serangganya cuma satu, tapi rasanya langsung ada banyak banget ngerubungin, di tangan, di kaki, di muka, kayak langsung ada banyak banget dan di mana-mana, jadi aku langsung nutup mukaku pakai kedua tangan, terlalu takut sampai nggak bisa ngapa-ngapain, aku cuma refleks madep sahabatku di sebelah sambil bilang, "Tolongin tolongin tolongin tolonginnnn."

Aku nunduk dalem banget, kepalaku tak gerak-gerakin, aku geleng sana geleng sini, harapanku sih bisa bikin serangganya langsung jatuh walaupun nggak mungkin segampang itu, aku tetep nutup muka, aku panik kuadrat. Yang aku lakuin itu malah bikin sahabatku jadi kesusahan ngambil serangganya dari kerudungku, dan walaupun dia bilang, "Jangan gerak-gerak," tapi ya aku tetep aja geleng-gelengin kepala terus-terusan.

Akhirnya serangganya bisa keambil, dan temen-temenku yang kelihatannya bingung kenapa aku bisa setakut itu akhirnya tahu kalau serangga itu fobiaku, dan reaksi mereka campuran antara, "Sumpah? Itu? Fobia? Kamu? SUMPAH?" dan, iya, rata-rata orang memang pada komentar gitu, sih. Kalau yang kita takutin itu hal-hal lumrah dan nggak mengundang pertanyaan, bukan fobia namanya.

Terus, setelah aku mengalami kejadian mati-sekali-dan-hidup-lagi pas akhir semester satu kelas 2 SMA, terlalu banyak hal yang berubah dariku dan rasanya berimbas juga ke caraku memperlakukan lingkungan di sekitarku (persis kayak orang habis hidup lagi dari mati suri, coba aja lihat tayangan ulangnya Kick Andy) (aku nggak banyak cerita soal mati-sekali-dan-hidup-lagi sih, tapi mungkin kalian bisa nebak-nebak apa yang terjadi dengan baca-baca postinganku di September dan Oktober 2015 dan lama-lama gaya nulisku beda) dan fobiaku ke serangga itu sekarang nggak parah-parah banget kayak dulu.

Gara-gara keingetan kejadian itu sebelum aku tidur, aku jadi mimpi, deh. Tentang fobiaku yang baru. Yang aku ceritain seuplik di cerpen bagian satu sebelumnya.

Omong-omong, itu bukan cerpen sih. XD Makanya nggak aku lanjutin. /dihantam

Sebenernya itu novel, yang sempet berhenti kukerjain karena diserang berbagai macam cobaan mulai dari ujian praktik sampai akhirnya pengumuman SBMPTN. Novelnya belum komplet sayangnya, aku sudah tahu gimana awal dan akhirnya, tapi ada satu scene yang aku masih harus banyak baca-baca adegan beginian dan latihan terus, biar kata-kata yang aku pakai bisa mendeskripsikan persis kayak yang aku bayangkan di kepala. :"D

cerpen

26. Satu Dari Dua: The Boy

Kamis, Juni 29, 2017

the boy

Ini terjadi saat hari pertama masuk sekolah. Setiap kursi diurutkan sesuai nomor presensi, jadi kemungkinannya kecil untuk bisa sebangku dengan teman bekas SMP atau kenalan baru yang sudah lebih dulu curi garis awal dengan berbincang. Aku kebetulan bersebelahan dengan seorang anak perempuan yang ... parasnya biasa-biasa saja (hei, bukan berarti aku membuat perhitungan dengannya hanya karena hal ini), rambutnya sebahu lebih sedikit. Mungkin sampai bagian tengkuknya.

Gadis ini sudah duduk lebih dulu, jadi aku yang menghampiri. Begitu langkah kakiku sudah sampai pada jangkauan pandangnya, dia menoleh. (Sejak tadi ia memalingkan muka ke arah jendela seperti seolah tak ada di dalam ruangan, persis yang dilakukan Sahara menjelang dimulainya lomba cerdas cermat bersama Ikal dan Lintang dalam Laskar Pelangi.)

"Kamu yang jadi teman sebangkuku?" ia bertanya bahkan sebelum aku duduk.

Ingin sekali aku menjawab, "Bukan," dan memulai percakapan pertama kami dengan lelucon garing yang kulontarkan--jelas-jelas aku teman sebangkunya, siapa lagi yang berjalan melewati meja demi meja sampai akhirnya berhenti di paling belakang pojok ruangan kalau bukan aku?--tapi rasanya ia ingin mengatakan sesuatu dan aku harus menyimpan leluconku untuk lain waktu karena sebentar lagi kakak kelas kami datang, "Iya."

Gadis itu mengangguk. Oke, aku akan satu bangku dengan dia selama tiga hari, selama Masa Orientasi Peserta Didik Baru berlangsung. Aku baru meletakkan tasku di kursi saat dia menyambung lagi. "Aku mau ngomong."

"Oh." Aku mencoba agar tidak tampak terkejut. Dua kali gadis ini mengajakku mengobrol dan dua kali aku dibuat terkejut. Kini aku duduk, agak kikuk juga karena apa yang kulakukan justru mempersempit jeda di antara kami, di mana apabila ditinjau dari percakapan ini seharusnya aku mulai menjauh sampai pada titik radius dua meter lebih. "Apa?"

"Tahu sistem MOPDB di sini kayak gimana, nggak? Kita bakal dimarahi?"

Itu pertanyaan macam apa? "Jelaslah kita bakal dimarahi," aku menjawab cepat-cepat, dari jauh aku sudah mendengar bentakan-bentakan, pastilah itu dari senior yang mulai memasuki kelas-kelas. Beruntunglah kami ada di kelas paling jauh jadi kalau waktu mulai agak terulur bagi kami, "ini MOPDB, lho. Kamu kalau nggak mau dibentak harusnya pakai pita kuning. Dengan begitu, kamu akan praktis terhindar dari gertak-menggertak."

Pita kuning itu bukan kata sandi, itu arti harfiah. Untuk murid baru yang merasa tidak sehat, seperti mudah pingsan, jantungnya lemah, atau hal-hal yang berkaitan dengan ketidaktahanan terhadap bentakan-bentakan, wajib mengikatkan pita kuning di tangan, seperti gelang. Pita kuning itu harus disiapkan dari rumah karena tidak disediakan panitia, dan gadis itu tidak memakai apa-apa sama sekali di pergelangannya--oh, hanya jam di tangan kanan.

"Aku nggak bisa, soalnya aku bakal ditanya kenapa dan aku nggak bisa jawab pertanyaan itu."

"Memangnya kamu kenapa?" tepat setelah aku menanyakannya, di dalam kepalaku langsung berbunyi alarm peringatan, tanda bahwa aku telah mengucapkan kalimat yang sudah dipastikan akan merepotkanku dalam beberapa waktu ke depan. Atau lebih buruk, akan mengubah kisahku yang selama ini kuberi deskripsi singkat dengan mencuri judul Harry Potter bab pertama dan menambahkannya sedikit--the boy who lived (and just alive)--menjadi benar-benar berbeda seutuhnya.

Gadis itu, dalam satu gerakan memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Masing-masing telunjuknya menempel di pelipis kanan dan kiri, gaya seorang pemikir yang berusaha keras mengingat sesuatu, "Di sini," dia mengetuk-ngetuk kedua sisi kepalanya, "ada orang lain di sini."

"HAH--"

Pintu dibuka keras-keras. "BERDIRI!"

Serentak otomatis semua anak dalam ruangan berdiri, dan kami berdua berhenti bicara. Aku meliriknya, dan gadis itu menggigit bibir, berharap aku bisa paham hanya dengan secuil petunjuk itu yang ia ucapkan, padahal kenyataannya tidak. Tidak sama sekali. Apa maksudnya ada orang lain di dalam kepalanya?

Aku pernah beberapa kali menonton film horor dan aku lumayan tahu tentang ada orang-orang yang mempunyai kepribadian ganda di dunia ini, tapi ... masa sih? Lagipula, kalau memang dia punya kepribadian ganda, kenapa harus mengatakannya padaku? Kepribadian ganda bukanlah sesuatu yang perlu untuk ditakutkan dan tak ada hubungannya dengan menghindari bentakan-bentakan MOPDB, 'kan?

(Heeeei, IYA KAN?)

Senior yang tadi meneriaki kami itu menutup pintunya. "Pasang kartu pengenal kalian!"

Kartu pengenal yang terbuat dari kertas asturo berukuran A4 dilaminating dan diberi tali rafia supaya bisa dikalungkan adalah properti MOPDB yang sudah kami siapkan di rumah sebelumnya. Isinya nama panggilan besar-besar, kemudian nama panjang, kelompok, dan moto hidup. Aku mengalungkan kartu pengenalku dan gadis itu melakukan hal yang sama.

Namanya Lisa.

Senior itu mengambil spidol papan tulis dan baru akan menuliskan sesuatu ketika pintu terbuka. Salah satu rekannya, sesama panitia, melongok dengan tampang siaga satu. "Lur, kok bola tenis buat pos tiga kurang satu, ya? Kamu belinya berapa buah?"

Pertanyaan itu diterima dengan reaksi waspada. Ia meletakkan kembali spidolnya, meninggalkan kelas tanpa bahkan mengatakan sesuatu kepada kami. "Lho, perasaan sudah pas jumlahnya?" ia menutup pintu dan percakapan di antara mereka tak terdengar lagi. Kelihatannya ada kesalahan teknis dan aku bersyukur kesalahan itu terjadi di situasi ini dan yang salah adalah senior yang menjaga kelas kami, karena itu artinya konversasi bisa tersambung lagi:

"Yang tadi, maksudnya apa?" aku menoleh, "Lis?" dan menyebutkan namanya spontan, dengan nada buru-buru agar dia setidaknya tahu kalau kami berdua tidak punya waktu, dan aku masih harus memacu otakku untuk bekerja lebih keras agar bisa memahaminya, karena setelah ni aku bertanggung jawab atas segala peristiwa yang akan terjadi. (Walaupun, tolong, semoga tak terjadi apa-apa!)

"Kayak kepribadian ganda tapi beda," gadis itu, Lisa, menjawab cepat. "Kalau kepribadian ganda bisa menyabotase jiwa, kalau di kasusku enggak. Dia cuma di dalam kepala sini, mengamatiku, menjagaku."

"Menjaga?"

"Dia bakal secara praktis menghapus memori buruk yang datang ke kepalaku," Lisa menjelaskan dan aku terlalu terkejut, karena kalaupun aku boleh berbicara maka sudah dipastikan mulutku akan penuh busa, mengatakan berulang-ulang, "Apa? Apa? APAAA?" jadi aku hanya diam. "Walaupun itu baru saja terjadi. Bisa saja habis ini senior itu akan datang dengan pistol di tangan lalu menembak seseorang, kemudian kita semua menjerit, berlarian kalang-kabut."

"... Lalu, kamu?"

"Aku awalnya akan ikut kabur, tapi nanti ada titik di mana aku malah menemuimu dan bertanya apa yang terjadi."

"..."

***

yak sekarang sudah tanggal 29 dan mari kita selesaikan utang postingan ini sekarang. grao. *seruput kopi*

challenge

25. Ajakan #JumblingJuly!

Rabu, Juni 28, 2017

[ source ]
AJAKAN MENULIS #JUMBLINGJULY2017!

Siapa yang bulan Juni ini ikutan #NulisRandom2017? Sayangnya bulan Juni udah mau berakhir nih, bakal nggak ada sarana menulis lagi, ya. :(

Nah, berangkat dari akan berakhirnya #NulisRandom2017 bulan Juni dan mencari "sarana" untuk tidak mematikan kebiasaan menulis ini, Rana dan Rifina menginisiasi #JumblingJuly2017 untuk kembali mengajakmu kembali menulis setiap hari!

#JumblingJuly2017 ini kami buat dengan lebih berkonsep (?) karena akan ada prompt (pemicu/tema) setiap tiga harinya. Jumbling sendiri diambil dari kata jumble, dalam bahasa Inggris artinya campur-aduk. Jadi di bulan Juli ini kita akan menulis dengan berbagai prompt yang campur-aduk!


PROMPT #JUMBLINGJULY2017

(tanggal: prompt)
  • 1-3: Rasa Takut
  • 4-6: Benda Berkesan
  • 7-9: Yang Bikin Lupa Waktu
  • 10-12: Cerita dari Sudut Pandang Benda Mati (tapi yang ada di sekitar kita gitu)
  • 13-15: Suka-Duka Mahasiswa/Siswa
  • 16-18: Harapan
  • 19-21: Ruang Tamu
  • 22-24: Perjalanan Jauh
  • 25-27: Foto
  • 28-31: Resolusi

Nah, karena prompt-nya berganti tiap tiga hari sekali, kita menulis sesuai dengan prompt yang sama (sesuai tanggal). Tapi kami tidak mewajibkan untuk menulis full tiga hari untuk sebuah prompt―boleh sehari saja, dua hari saja, atau full tiga hari, asalkan sesuai dengan prompt yang telah ditetapkan pada tanggal yang berjalan.

Jadi, Mulai hari Sabtu, tanggal 1 Juli 2017, kami ingin mencari teman seperjalanan menulis di bulan Juli! Kalian boleh menulis apapun, dalam bentuk apa pun (curhat, cerpen, fanfiksi, artikel, dll), sebanyak apapun, lalu bagikan setiap cerita itu ke siapa saja dan ajak semua orang untuk ikutan #JumblingJuly2017!

Tujuan ajakan ini adalah agar mengelabui otak kita supaya kebiasaan menulis ini menjadi sebuah kebiasaan rutin yang harus kita lakukan, bahkan ibarat ngemil setiap hari. Dan, agar kita juga bisa bersenang-senang melalui "menulis"!

Berani kan?


CARANYA:

Posting tulisanmu di mana saja. Status Facebook, Path, Twitter, Instagram, atau boleh juga di blog pribadi. Boleh bagikan link postingan tulisannya kepada siapa pun yang ingin kamu bagikan. Boleh tag siapa pun, biar makin banyak yang ikutan! XD

RENTANG WAKTU:

Ajakan ini akan berlaku mulai Sabtu, tanggal 1 Juli 2017 hingga Senin, tanggal 31 Juli 2017.

SYARAT:

Tidak ada syarat tertentu karena kami tidak ingin membebani siapa pun yang berpartisipasi dalam #JumblingJuly2017. Dalam sehari kita boleh menulis satu tulisan, atau lebih. Jumlah words juga tidak dibatasi.

TAMBAHAN:

Bagi kalian yang mau membuat poster judul untuk #JumblingJuly2017, bisa banget download template-nya (format *.cdr) beserta font-nya di http://bit.ly/JumblingJuly2017!

Yuk, mulai menulis di hari pertama bulan Juli, hari Sabtu tanggal 1 Juli 2017!

mimpi

24. Dibalik No. 23

Senin, Juni 26, 2017

Yap, ini behind the story, sih. Aku mau cerita tentang apa yang terjadi dibalik pembuatan cerpen untuk postingan #nulisrandom hari ke dua puluh tiga. Jadi sebaiknya kalian baca dulu cerpenku yang itu sebelum ke postingan ini. Cuma cukup scroll aja kok, atau klik di archive juga boleh. XD Atau klik tautan ini juga bisa oke. 

Ehem, mulai. Aku jadiin poin-poin aja, ya.

SATU

Jadi, Yang Bisa Diceritakan ini adalah satu dari sedikit cerpen yang dimulai dengan tanpa niat membuat cerpen sama sekali. (...) Awalnya aku bikin tulisan itu tuh dengan tujuan untuk postingan blog, cukup. Awal-awal sengaja aku bikin dramatis, tapi ceritanya nanti bakal dihentikan di tengah jalan lalu aku balik ke gaya bercerita yang biasanya. Soalnya susah bangun seting (yang bangunan, lima belas orang, drone, bingkisan, dst.) kalau nggak diceritain kayak cerpen, takutnya nanti bosen, deh.

Yak, dan terus aku keasikan keterusan. (...)

DUA

Ini aslinya dari mimpi! XD Makanya aku bikin kayak gini. Aku pengin cerita soal mimpiku. Aku nggak tahu ini mimpi di malam sebelumnya atau yang sebelumnya lagi, tapi pokoknya aku mimpi bau-bau aksi kayak gitu karena kepengaruh Sherlock Holmes: The Final Problem. Nggak ada persis-persisnya sama sekali sebenernya, tapi ... pokoknya melibatkan pistol.

Kayaknya (kalau aku nggak salah ingat), walaupun di kasusnya Sherlock sebelumnya juga sudah dilihatin adegan tembak-menembak, tapi baru di kasus terakhir inilah bener-bener dilihatin betapa gemeterannya seseorang yang mencoba narik pelatuk pistolnya. Aku belum pernah megang pistol seumur hidupku, tapi aku cuma pernah denger kalau pistol itu--apa pun yang ada di bayangan setiap orang--pokoknya selalu, "Sebenernya lebih berat dari kelihatannya."


Oke, memangnya seberat apa? Aku penasaran banget. Atau di kasusnya The Hounds of Baskerville, seseorang yang megang pistol pakai dua tangan dan meleset, terus John datang dan megang pistol dengan sebelah tangan aja--yah, karena tentara, sih, ya--dan cuma satu peluru doang dan bisa tepat sasaran. Whao. Kayaknya gara-gara kepenasarananku akan pistol yang bikin aku keterusan dan kebawa mimpi, deh. (...)

TIGA

Aku nggak tahu aku yang mana di mimpi itu. Yap, beneran. Makanya postinganku nggak jelas yang mana yang cowok atau yang cewek, karena di situ bener-bener gelap. Terlalu gelap bahkan aku nggak tahu aku yang mana--jangan-jangan aku yang malah ngendaliin drone-nya malah. (...)

Waktu aku jadi perwakilan buat hadir konferensi di dalam gedung, ruangannya kan terang-benderang tuh. Aku yakin kalau itu aku. Tapi begitu bom meledak dan aku terlempar ke luar, lalu aku kejar-kejaran sama teroris (?) nya, kan lalu kamera berpindah, 'kan? Jadi nge-syuting (?) anak yang mau bunuh diri pakai kapak di atas perahu.

Nah, pas adegan itu, bener-bener gelap banget. Tapi rasanya nyata, dan terus seketika tokoh utamanya jadi dia. Soalnya pas si anak konferensi itu datang, yang disorot dan mendominasi emosi batin itu si tokoh di atas perahu--jadi kayaknya ada pergantian tokoh utama di sini. Terus aku malah ngerasa kalau yang di atas perahu itu aku juga.

Mimpi memang membingungkan. (...)

EMPAT

Sebenernya, ending-nya nggak kayak gitu. Jelaslah, ya, kita nggak bisa mengharapkan hal yang wajar dari mimpi. Aslinya aku nggak langsung mati di ujung gang. Kayak gini aslinya:

(01)

Aku lari dari kejaran teroris yang nyegat aku di gang.

Aku bisa melawan, dia kupukul, lalu aku curi semacam radio yang jadi alat komunikasinya mereka, habis itu aku lari lagi. Tiba-tiba aja rasanya aku tahu harus sembunyi di mana, harus lari ke mana, pokoknya yang bisa bener-bener kabur. Setingnya jadi ninja-ninjaan gitu, deh. Aku manjat sana-sini, lompat dari gedung ke gedung, ngeng berasa malam hanya milikku seorang.

(02)

Akhirnya aku kena tembak. Sakit banget, rasanya kayak nyata. :') /sya

Tapi aku tahu bagaimana cara bertahan dari tembakan pistol dari depan. Aku nggak tahu bener apa enggak, tapi aku bener-bener ngikutin penjelasan demi penjelasannya Sherlock pas dia ditembak Mary di His Last Vow (EH, ini spoiler. Maafkan daku. :"D /dihantam). Begitu dia ditembak; waktu langsung berhenti dan dia mendengarkan penjelasan dari orang-orang terdekatnya tentang apa yang harus dia lakukan kalau dia kena tembak.

Jawabannya sederhana, mempraktikkannya yang susah; menumbangkan diri. Kalau ditembak dari depan, tumbangin ke belakang. Kalau ditembak dari belakang, tumbangin ke depan. (Nggak tahu kalau ditembak dari depan dan belakang gimana.) Susah astaga, tapi yang penting jangan melawan arah pelurunya karena nanti bakal semakin ngerobek kamu dan salah-salah malah nembus.

Trus aku menumbangkan diri, kan.

(03)

Nah, ternyata nasibku baik, LOL.

Namanya juga tokoh utama di mimpi sendiri, kayaknya nggak mungkin kalau aku dibikin mati. Aku disekap di suatu ruangan yang kayak kamar rumah sakit pas Sherlock dibekep mulutnya di The Lying Detective. (Ini kenapa semua seting mimpiku dari Sherlock terus? Namanya juga kebawa mimpi, ya, LOL.) Tapi tanpa kasur. Bener-bener ruangan kosong.

Jadi, aku diselamatkan karena aku punya reaksi cepet untuk langsung menumbangkan diri begitu ditembak; soalnya, serius, itu susah, kita cuma punya waktu sebentaaar banget buat jatuh tanpa berpikir. Semoga aku nggak harus mengalami beneran karena aku di dunia nyata nggak mungkin bisa melakukannya. (...) /apaini

Akhirnya aku diancam, keluargaku bakal dibunuh kalau aku nggak mau menerima jadi agennya mereka. Ding dong. Alhasil aku jadi agen rahasia. Orang-orang tahunya aku sudah mati padahal aku cuma bersembunyi. (?) Dan akhirnya (akhirnya) mimpiku berakhir di sini.

LIMA

Lagu yang aku putar di cerpen, Somebody to die for, itu ... baper sekali. :")

Aku lihat video klip buatan fans yang bener-bener menggambarkan seseorang yang rela mati, rela bohong, rela dimusuhi, apa pun biar sahabatnya nggak dicelakai. Akhirnya dia baikan sama sahabatnya tapi si sahabat nggak seratus persen percaya lagi sama dia. Dia mau nggak mau harus nerima karena itu konsekuensinya kalau dia bohong ke si sahabat, walaupun tanpa pengetahuan si sahabat sebenernya dia melakukan itu untuk kebaikan. :")

Tapi dengerin lagunya tok sudah terlampau cukup untuk didengarkan. :'D Atau minimal kalau nggak tahu lagunya, anggap liriknya itu semacam kutipan juga sudah cukup memicu terjadinya tsunami air mata kok. :") Aku kepikiran buat masukin lagu ini begitu sadar dengan sangat terlambat kalau tulisanku bakal menjelma menjadi cerpen. XD

ENAM

Bagian akhirnya, "Yang Tertinggal", itu aku gatel banget pengin bikin mereka berdua berinteraksi.

Ceritanya percakapan itu pengin aku selipin di adegan menjelang potong tali tambang, tapi aku bayangin adegan itu dan rasanya saat-saat kayak gitu mencekam banget, apalagi si anak konferensi masih gemeteran nggak sanggup ngapa-ngapain. Alhasil mereka bener-bener nggak ada interaksi, dan aku jadi pengin bikin lanjutannya, soalnya duh nggantung banget itu. Dia sekarang di atas perahu terombang-ambing, bisa-bisa dia trauma seumur hidupnya, kebayang adegan sosok penyelamat dalam hidupnya melulu. :")

Awalnya aku pengin bikin si bocah perahu selamat. Tapi ya, nanti panjang ceritanya. Terus jadi romansa deh, mereka ternyata sama-sama selamat dan ketemu lagi waktu sudah besar, gitu? Yak, terlalu bahagia dan walaupun kejadian ini nggak realistis, jangan buat makin tidak realistis. (...)

Akhirnya tetap deh aku bikin dia mati, tapi aku nggak bisa menahan diriku buat nggak ngasih tambahan di akhirnya. Kayak dialog singkat keduanya seandainya semesta memberi waktu untuk mereka. :'D

cerpen

23. [Short Story] Yang Bisa Diceritakan

Senin, Juni 26, 2017

her eyes. ;--;
|YANG HIDUP|

Gelap. Derap langkah. Kejar-mengejar. Napas memburu. Huh-huh-huh-huh.

.

Lima belas orang dalam satu ruangan, diundang secara resmi untuk menghadiri suatu acara yang resmi pula. Pembukaan sudah dimulai, sambutan dari seorang tokoh terkemuka yang dipanggil secara khusus untuk memberikan satu-dua patah kata telah usai. Suara tepukan tangan dari saya dan empat belas orang lain sebaya saya bahkan belum selesai, ketika pintu terbuka.

Tak ada yang bersuara seketika, kami semua menoleh ke belakang. Kedua daun pintu utama terbuka lebar-lebar, tak terlihat siapa sosok yang melakukannya. Hanya ada pesawat, drone murahan, yang dikendalikan dari jauh, mengangkut sebuah bingkisan kecil yang dihubungkan dengan tali—seperti seorang yang dinaikkan dengan balon udara.

Beberapa dari kami bertepuk tangan, kebanyakan dari kami buru-buru merogoh ponsel dan merekamnya. Saya berbalik badan untuk melihat air muka sang pemberi sambutan tadi—beliau tokoh besar teladan saya, jadi saya penasaran barangkali beliau ingin menyuarakan reaksinya. Namun mimik wajah beliau tampak kebingungan, justru memandang ke arah panitia di sisinya dengan raut bertanya-tanya. 

Kru yang ditanyai dalam diam malah melempar pandang ke rekan-rekannya yang berdiri di samping panggung. Beberapa wajah baru keluar dari balik tirai, ingin tahu. Saya mengerutkan kening. Ada yang tidak beres.

Drone pembawa bingkisan kecil itu terbang ke tengah ruangan, bersamaan dengan saya yang mulanya duduk di barisan terdepan paling ujung dan mulai berjalan perlahan mendekati jendela besar di kiri saya. Jendela besar yang ada untuk membiaskan cahaya matahari, namun karena sekarang nyaris tengah malam jadinya seperti untuk memberi tahu orang-orang jalanan bahwa sedang ada acara mewah di gedung ini yang bisa dihakimi dari cahaya lampu besar-besar yang berpendar.

Waktu saya cukup singkat karena bingkisan kecil itu telah dijatuhkan bahkan sebelum saya memastikan cara membuka jendela itu kalau-kalau saya perlu melompat keluar. Tak butuh waktu sedetik untuk sempat menarik napas, semua terlambat sadar kalau itu bom—ruangan itu meledak.

DUAR!

Saya terlempar keluar bangunan dari jendela.

.

Terpelanting, saya menubruk sesuatu dengan keras sekali—yang saya asumsikan pintu bangunan di seberang jalan. Kepala saya rasanya berdarah, badan saya sakit semua, benar-benar perih di setiap bagian tubuh. Mata saya berkunang-kunang dan rasanya saya sekarang berputar-putar. Sangat mudah untuk ambruk kapan saja karena toh sebenarnya sekarang saya bisa, hanya saja terdengar suara menarik atensi saya.

Bip bip bip bip bip bip bip—

Suara pin tersemat di saku atas kemeja saya. Pin warna hijau, bergambar semanggi berdaun empat—simbol keberuntungan. Karena memang dengan alasan itulah kami berlima belas dikumpulkan, semacam konferensi dengan perwakilan masing-masing daerah untuk menyumbangkan pendapat mengenai aksi sosial, bentuk terenyuh atas berita-berita kurangnya toleransi yang marak baru-baru ini.

Saya menunduk menatap pin yang kini berkelap-kelip itu. Belum sempat saya bertanya-tanya, saya mendengar suara teriakan yang saling menyahut satu sama lain dalam gedung di seberang. Cahaya lampu tergantikan dengan kobaran api, lalu lamat-lamat saya melihat bayangan seseorang dari kepulan asap.

Memandang saya. Menuding saya. Ada orang lain yang datang, melihat ke arah mana telunjuk orang pertama terarah, dan begitu menatap saya—atau sepertinya alih-alih bertatapan mata, kedua orang itu hanya menunjuk pin hijau menyala-nyala di saku saya karena hanya objek satu itulah yang tampak jelas di tengah kegelapan—ia melakukan hal yang sama; menuding.

Dor!

Astaga, kalau dia bukan menuding, tapi menembak! Tembakannya mengenai kenop pintu persis di atas kepala saya—sepertinya orang itu secara kasar mengira-ngira di mana tepatnya kening saya dengan memperhitungkan pin yang tersemat di saku kemeja—dan sukses membuat telinga saya berdenging hebat.

Lari, lari, lari!

Kedua tangan saya terlalu gemetaran untuk mencoba melepas pinnya, namun kaki saya cukup bisa diandalkan untuk refleks bangkit, walaupun terhuyung-huyung, menghilangkan diri dengan masuk ke dalam gang kecil samping bangunan. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di daerah ini jadi saya tak tahu harus lari ke mana.

Gelap. Satu-satunya yang terang hanyalah pin semanggi dan bip bip bip bip yang sepertinya menghantui saya, ujung gang membawa saya ke suatu rute jalanan baru di mana semua bangunannya seperti mati—tanpa suara, tidak tahu apa-apa, kota yang tidur. Jalanan yang sepi langsung saya terobos, saya memasuki gang sempit di antara dua bangunan lagi, saya hanya ingin lurus terus tanpa berpikir ambil kanan atau kiri.

Bip bip bip bip bip—

Astaga, astaga, apa suara dari pin semanggi ini tak bisa berhenti? Atau memang di sana poinnya? Barangkali suara inilah—bip bip bip bip—alarm kematian saya?

.

.

that look. :")
|YANG MATI|

Cause I don’t need this life.

.

Seseorang berdiri di atas perahu. Headphone terpasang. Kapak di tangan.

Malam ini, ada tiga hal sederhana yang harus ia lakukan. Pertama dan yang utama; memastikan semua seting dan objek berjalan sempurna. Malam hari ini cerah—sehingga ia tak perlu khawatir angin kencang akan menggoyangkan perahunya ke sana kemari dan berakhir dengan karam di suatu titik dan jasadnya tak pernah ditemukan, dan arus sungai yang deras—seperti malam-malam biasanya yang akan membuat perahu ini tepat sampai di kawasan pasar ketika arus mulai tenang pada pagi harinya.

Kedua, ia akan memutus tali tambang yang menghubungkan perahu ini dengan batu besar di daratan menggunakan kapak, sehingga sontak begitu terputus maka perahunya akan mulai bergerak mengikuti arus sungai.

Terakhir yang tak kalah sederhana, ia hanya perlu membunuh dirinya sendiri dengan kapak yang masih di tangannya, sekalipun ia belum sepenuhnya mempertimbangkan dengan cara apa. Putus pergelangan tangan? Tikam dada sendiri? Yah, toh ia punya waktu beberapa jam untuk memikirkannya.

Orang itu melihat pergelangan tangannya, sebentar lagi tengah malam tepat. Ia menatap kayu di tangannya, beralih pada tali yang terikat di batu besar, lalu lurus-lurus menatap ujung sungai tak terlihat yang akan ia susuri sepanjang malam sampai mencapai kawasan pasar.

Tubuhnya akan ditemukan orang-orang, dibawa ke darat di tengah-tengah jeritan. Kehidupan tak bergunanya selama ini setidaknya setimpal apabila kematiannya dapat sukses membuat surat kabar esok hari jadi tak laku.

.

And I will let the devil know that I was brave enough to die.

Dilepasnya headphone yang melingkari kepalanya seperti bando, lalu mengalungkannya. Lagu yang terputar terus-menerus berganti menjadi semilir angin yang akhirnya berhasil juga menyeruak masuk dalam jangkauan pendengarannya. Ia yang memilih mati hari ini, ia juga yang memilih lagu kematiannya sendiri.

Dor!

Tembakan itu membuat air sungai di samping perahunya beriak—seperti kalau seseorang melemparkan batu dan membuat airnya terciprat ke mana-mana. Ia menoleh, dan melihat sayup-sayup mendengar suara. Derap langkah. Seseorang muncul dari celah sempit yang menjadi jeda dua toko kecil, dan menangkap suara yang makin lama makin keras bunyinya.

Bip bip bip bip bip—

Mereka saling lihat—cukup sulit untuk memastikannya di tengah kegelapan, tapi setidaknya ia tahu bahwa keduanya bertemu muka. Dan orang itu berlari ke arahnya. Napasnya memburu. Kedua tangannya gemetaran, dan begitu orang itu berhenti berlari sekejap kedua kakinya menjadi gemetaran juga—dan orang itu tak perlu memastikan bahwa seluruh tubuh lawan mainnya berguncang hebat.

“Bantu! Ini! Bantu aku!” suaranya seperti tercekik, tangannya tak bisa berhenti bergetar memegang saku baju resmi yang dipakainya.

Bip bip bip bip bip—Rupanya suara itu berasal dari pin kelap-kelip hijau yang dipakainya. Kapak di tangan dijatuhkannya begitu saja, tak sempat pula mengecek sudah tepat tengah malamkah sekarang, ia buru-buru mencoba membantu melepas pinnya.

Suara derap langkah semakin terdengar. Sebenarnya melepas pin bisa saja sangat mudah, namun sekarang yang ada hanya gelap dan tekanan yang makin lama makin mencekam saja rasanya, mereka berdua jelas akan kehabisan waktu. Kalau mereka berdua ditemukan, ada kemungkinan ia akan ikut ditembak mati juga, dan sia-sia rencananya kalau mati dengan cara begitu.

Ia sudah tidak memakai headphone, tapi lagu itu masih berputar dan sebaris lirik yang seperti membangunkannya terdengar samar-samar.

And I don’t need this life; I just need somebody to die for.

Astaga. Ia butuh seseorang yang menjadi alasannya mati. Serius? Lagu favoritnya sepanjang masa kini menjelma menjadi nasihat tua yang membuatnya membuang rencana?

Ia berdecak kesal, seketika membenci dirinya sendiri.

“Sini!” ditariknya orang itu agar memasuki perahu. Kemudian dengan satu gerakan, ia melepas kemeja yang dipakai di mana pin semanggi terkutuk itu tersemat, kemudian dikenakannya sendiri. Seorang di hadapannya terlalu gemetaran untuk melakukan apa pun, jadi untung juga baginya. Tak sempat bercakap-cakap, baik ruang maupun waktu tak mengijinkan keduanya bisa sama-sama melakukan apa yang mereka inginkan.

Dipungutnya kapak, melompatlah ia keluar perahu.

Lalu tanpa berpikir lagi, ia memutuskan tali tambang yang mengikat pada batu.

Sungai bertindak gesit—membawa perahu dengan cepat dan menghilangkannya dari jangkauan pandang. Setidaknya, sekalipun nanti ketahuan bahwa ia bukanlah sosok yang sebenarnya harus mati kena tembak, itu sudah cukup untuk mengulur waktu. Tak cukup hanya untuk berdiam diri, ia melempar kapak ke dalam sungai. Ekor matanya menangkap sosok yang menyusul muncul dari gang sempit, ada beberapa, membawa senjata.

Dor!

Orang pertama menembak, meleset, mengenai air. Keberuntungan baginya untuk kemudian langsung berlari sekencang-kencangnya—ke arah yang berlawanan dari arus, mencuri perhatian semua penembak di situ—lalu segera masuk ke dalam gang sempit lain yang berjarak beberapa bangunan berikutnya.

Ini kota di mana ia lahir. Ia hafal mati setiap bagian daerah-daerah ini. Karena itulah orang itu juga tahu bahwa seharusnya ujung gang ini adalah rute jalan lain yang terbuka, bukannya buntu di mana dua orang dengan pistol di tangan mencegatnya di akhir.

Bip bip bip bip bip—

Don’t go gentle into that good night; rage on against the dying light ….

Dor!

.

.

cute but deadly. ;;
|YANG TERTINGGAL|

“Siapa kamu?” kamu bertanya di sela-sela tarikan napasmu.

“Seseorang.” Samar-samar kamu merasa dia tersenyum saat mengatakannya, tapi semuanya terlalu gelap, dan juga terlalu cepat. “Yang seharusnya mencabut nyawa sendiri tapi berakhir menyelamatkanmu.”

TAMAT

nulis random

22. Past Life

Senin, Juni 26, 2017

Siapa Rasya di kehidupan sebelumnya?

Sebenernya ini super duper nggak jelas, tapi ya sekalian karena ini nulis random, dan malam ini aku lagi random, jadi aku bukain satu-satu situs random tentang seperti apa kamu di kehidupan sebelumnya. Ada beberapa situs sih, dan sayangnya karena kerandomanku (berapa kali aku nyebut kata random di sini?) aku nyobain semua situs tes yang ada. XD



Ini tes yang aku coba pertama kali, karena ini situs yang paling atas di mesin pencari kita semua. Aku agak kaget sih sama jawabannya, soalnya pas ada pertanyaan yang disuruh nyebutin mata pelajaran kesukaan kita, aku sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama dunia IPA. Siapa yang nyangka kalau aku dulunya malah ilmuwan? XD

Di kehidupan sebelumnya, kamu adalah ilmuwan, ahli biokimia, dan ahli mesin sekaligus. Kamu bekerja di laboratorium dan mengembangkan jenis obat-obatan baru. Sekalipun demikian, ambisimu belum cukup untuk membuat namamu dikenal seluruh dunia. Terlepas dari hal itu kamu mempunyai IQ yang sangat tinggi dan tipe yang cukup gigih. Kamu lahir di Washington tahun 1890 namun karena pekerjaan ayahmu, kamu pindah ke New York saat berumur 16 tahun. Kamu dibesarkan di keluarga yang baik dan mempunyai dua saudara laki-laki.



Beda sama yang pertama, kalau yang sebelumnya itu pengin tahu tanggal lahir dan jenis kelamin kita, kalau yang lonerwolf ini ngasih tes yang pertanyaan-pertanyaannya terlampau umum. Situs yang ini juga minta warna favorit dan apa fobia kita, tapi di situs ini mereka juga pengin tahu apa mimpi buruk yang paling kita ingat, lalu sikap kita yang nggak bisa ditoleransi orang lain, gitu deh. Tapi ini bukan tentang siapa kita, tapi apa pesan moral yang bisa diambil dari kehidupan kita sebelumnya.

Rasya, dalam kehidupan kamu sebelumnya, kamu diberi pelajaran untuk menjadi pribadi lebih 'membumi'. Sekarang mungkin kamu merasa tidak aman, nyaman, dan seimbang, dan itu sebagai hasil dari pengalaman hidupmu di masa lalu. Namun, begitu kamu belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih membumi, kamu kan lebih merasa stabil dan terpusat.

Yang ini terlalu serius hiks. Kalau yang sebelumnya lebih lucu. XD



Aku suka pertanyaan-pertanyaan yang ini. XD Di sini lebih ke kepribadian kita sih, dan pertanyaannya nggak yang serius banget, persis seperti apa yang situsnya sendiri bilang; jangan anggap ini serius. Kuisnya sederhana, semacam kayak, "Seseorang yang cantik/tampan memasuki ruangan dan berjalan ke arahmu. Kamu berharap dia tidak menyadari bahwa ..." kayak gitu. :))

Rasya, kamu seorang filosof! Pasti senang mengetahui kamu pernah menjadi filsuf yang hebat, bukan? Pemikiran-pemikiranmu mengenai kebajikan pasti mengalami banyak hambatan di masa sekarang, di mana kita tidak benar-benar dibiarkan bebas berpendapat. Salut untukmu yang tetap mempunyai tekad memerangi keburukan, tapi kami pikir mungkin kamu perlu mencari seseorang untuk kauajak berpesta.

Kenapa kehidupanku sebelumnya beda banget sama jawaban yang pertama, memangnya kehidupanku sebelumnya juga punya kehidupan sebelumnya? :"))) LOL.



... Loadingnya sangat lama. (...........)

5. playbuzz.com (1)

Ada pertanyaan yang aku suka: "Siapa karakter Disney favoritmu?" XD Ada Mulan, Kapten Hook, Hercules, pilihannya begitu bervariasi dan aku sempet cengo bentar di pertanyaan ini. Memangnya ngaruh ya sama siapa kita di kehidupan sebelumnya? Makin lama makin random juga situs yang aku kunjungi, tapi tetep aku jawab semua pertanyaan dan akhirnya:

Rasya, kamu seorang filosof! Kamu mempunyai jiwa yang tenang, menyukai membaca dan menulis dibandingkan apa pun juga. Kamu menghabiskan sebagian besar waktumu sehari-hari memikirkan tentang agama, filsafat, dan bagaimana cara membuat dunia menjadi lebih baik. Dengan hasil pemikiranmu, kamu bisa mempengaruhi orang-orang di sekitarmu.

Yak, aku dapat filosof lagi. XD

6. playbuzz.com (2)

Bedanya sama yang sebelumnya, kalau yang ini tuh pertanyaannya berdasarkan ingatan-ingatan kita. Jadi lebih normal, kayak, "Apa mimpi pertama yang kamu ingat?", "Apa yang paling berharga bagimu?" sampai pertanyaan super baper kayak, "Masih ingatkah kamu dengan ciuman pertamamu?" (...) Sungguh pertanyaan yang pilihannya cuma Ya/Tidak, dan jawabanku Tidak itu seolah-olah bikin aku apa banget, dengan gampangnya melupakan ciuman pertama. XD

Trus kuis demi kuis terus kujawab, dan sampailah aku di pertanyaan terakhir tentang ingatan, "Masih ingatkah kamu dengan pertanyaan pertama di kuis ini?" lalu ada pilihannya, pertanyaan apa yang muncul pertama kali. Untung aku masih inget. XD Tapi ini sempet bikin aku kaget, lah ada toh pertanyaan semacam ini. Akhirnya jawabannya adalah:

Rasya, kamu seorang Raja! Memori yang kamu punya mengungkap bahwa kamu mempunyai jiwa kekuasaan dan tindakan baik seorang Raja di kehidupan sebelumnya. Kamulah tipe yang menciptakan legenda, sebagai seorang Raja yang menorehkan sejarah ke generasi selanjutnya. Kamu dikenal sebagai Raja yang kekuasaannya tanpa batas, membekas pada dirimu yang sekarang sehingga kamu memandang dunia sebagai istanamu dan inilah yang harus kamu sesuaikan di zaman ini. Kamu harus menyetel pikiranmu bahwa dunia itu sama bagi semua orang, dan dengan begitu jiwa Raja di dalam dirimu akan terpancar secara natural.

Seorang Raja. RAJA COBA. :))) Lama-lama situs yang kukunjungi semakin aneh. (...)



Mungkin inilah kuis yang pertanyaannya paling banyak; ada 29 pertanyaan. (...) Sungguh lelah jawabin satu-satu dan aku makin lama berasa makin random. Pertanyaannya sangat biasa (?), dan di tengah-tengah jawabin kuisnya aku baru sadar kalau aku perlu inget beberapa pertanyaan yang bisa kusebutin di blog ini, dan aku inget dua-tiga pertanyaan. Tapi begitu hasilnya keluar entah kenapa aku sudah lupa (?) LOL, pokoknya pertanyaannya sangat ... biasa. (...)

Dan ternyata jawabannya nggak langsung tembak merek (?), tapi kalimat panjang kayak gini:

Di dunia sebelumnya, kamu adalah sang rendah hati yang tinggal di negara terbelakang! Seseorang biasanya tidak bisa tahan tetap bersikap menyenangkan dan bertindak baik seperti kamu apabila menghabiskan hari demi hari dalam kehidupan yang sulit. Meskipun sekarang ada yang membuatmu tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan orang-orang di sekitarmu, kamu tetap rendah hati bahkan tanpa menyadarinya. Kamu mensyukuri apa yang kamu punya dan membagikannya tak peduli kamu mempunyai pengeluaran tambahan atau tidak.

Kok aku dapat kesan menyedihkan dengan jawaban ini ya. (...) Oke, jadi di situs sebelumnya aku dibilang kalau aku seorang Raja yang kekuasaannya tanpa batas, dan sekarang aku menjelma jadi seorang rakyat jelata yang miskin? (.....)


Aku ... kok bingung sama situs yang satu ini. Oke, kita bebas berimajinasi kita tuh siapa di kehidupan sebelumnya. Tapi di sini pertanyaan yang diajukan sangat aneh sekali. :") Kayak misalnya, "Pernahkah kamu bertemu seseorang dan kamu langsung tahu apa kesukaannya dan apa yang dia benci padahal dia belum memberi tamu kamu?" atau "Pernahkah kamu seperti berada di tubuh orang lain?" atau segala pertanyaan yang hanya sedikit orang yang mengalami dan aku nggak termasuk di antaranya.

Jadi alhasil dari segala pertanyaan, dan di pilihannya cuma ada Ya dan Tidak, jadi aku jawab "Tidak", "Tidak", "Tidak", sampai seterusnya dan pada akhirnya yang kujawab "Ya" cuma satu ._. Oke tapi aku suka sama jawabannya:


Rasya, dalam dirimu tidak tampak tanda-tanda mempunyai kehidupan sebelumnya! Apa pun yang kamu percaya tentang hal itu, lebih baik fokuslah pada apa yang kamu punya di kehidupanmu sekarang.

Ini jawaban yang sangat ... indah. :")))

Mau aku di situs sebelumnya dibilang ilmuwan, ahli biokimia, ahli mesin, filosof, dari raja sampai rakyat jelata, tapi jawaban di situs ini seolah-olah menghapus semuanya dan aku paling suka sama jawaban ini. Hasilnya sederhana, tapi cukup bikin aku sadar betapa randomnya yang kulakukan dan aku pengin ini jadi akhir aja, jadinya aku berhenti deh. XD

game

21. Software

Sabtu, Juni 24, 2017

Sekarang hari terakhir Ramadan dan mendadak aku pengin bisa bikin software.

[ source ]
Nggak nyambung, jelas. (...)

Nggak ada kaitannya sekali antara hari terakhir Ramadan sama keinginanku bikin software. Memangnya jenis software macam apa yang aku buat, dan memangnya aku tahu apa tentang pemrograman kayak gitu, sementara sampai tadi aku masih tanya sama adekku, "Dek Dama, software tuh aplikasi bukan?" jadi jelas aku nol besar banget soal software ini.

Tapi terlepas dari aku mau bikin software kayak apa, aku pengin software itu 'seolah' terbagikan secara gratis ke semua orang, tapi sebenernya cuma orang-orang tertentu yang bisa buka karena aku kasih password. Sebenernya pertama kali mikirin ini, rencanaku cuma sampai situ, aku kasih kata kunci tapi toh sebenernya semua orang bisa minta kata kuncinya dengan kirim pesan ke aku. Tapi lalu aku berubah pikiran.

Ini masih kasar banget dan terlintas jam setengah tiga pagi di masjid pas aku iktikaf terakhir, dan aku jarang banget dapat ide di saat-saat kayak gitu, jadi menurutku, walaupun masih abu-abu di kepala, aku harus menuangkannya ke dalam bentuk tulisan karena siapa tahu ingatan ini bisa hilang. Entah juga sih ini ide besar atau semacam celetukan putus asa karena akhir-akhir ini aku nggak berselera menuangkan sisi humor di cerpen-cerpen yang aku bikin, tapi ya ... nggak papalah kita coba.

Ada satu sisi di mana aku pengin semua pengguna software ada dalam pengawasanku, tapi ada juga satu sisi di mana kata kuncinya itu adalah jawaban dari suatu teka teki. Ada pertanyaan, yang jawabannya terdiri dari satu kata dan sepuluh huruf, pertanyaan yang juga sudah datang ke kepalaku ... tapi sayangnya aku belum tahu jawabannya LOL. /dihantam

Tentu kalau aku pilih opsi kedua, aku berarti harus memakan risiko karena jelas akan ada orang di luar sana yang bisa mengakses software-nya secara sederhana karena dia tahu jawabannya, dan itu bakal tanpa sepengetahuanku. Kalau aku mau mereka membagi biodatanya, berarti masalahnya ada di kata-kata pembuka yang entah bagaimana bisa ngeyakinin mereka.

Lalu gimana sama orang-orang yang nggak tahu jawabannya? Aku mikir kalau mereka mungkin perlu bimbingan (?) atau setidaknya, aku mungkin perlu kasih beberapa klu ke mereka, klu yang bikin mereka jadi menyusuri jalan setapak yang sama kayak aku untuk mendapatkan jawaban ini. (Karena, iya, ini aku bilang lagi: aku juga belum tahu jawabannya.)

Mungkin kayak gini opsi buat mengirim pesannya:
  1. Kasih tebakan, aku cuma perlu jawab Benar / Salah
  2. Minta klu
  3. Minta klu setelah aku bilang Salah
Sekarang sudah lewat beberapa jam sejak pertanyaan itu muncul di kepalaku, tapi aku belum dapat jawabannya, dan ini sebenernya nggak lucu karena ya masa aku yang bikin tapi aku sendiri susah menemukan jawabannya? Tapi lalu kutipannya Conan terlintas di kepalaku:


Tidak ada misteri di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan.
- Conan Edogawa (Detective Conan)


Lalu aku kepikiran juga; ya, mungkin jawaban dari teka-teki itu nggak datang dari aku? Waktu sahur terakhir tadi aku makan sambil mikirin itu. Mungkin aku butuh bantuan dari seseorang buat nemuin jawabannya? Tapi kalau kayak gitu, artinya aku main curang dong. Gimana aku bisa mengharapkan ada orang yang bisa jawab teka-teki ini sendiri kalau aku yang bikin pertanyaannya aja minta bantuan orang lain?

Tuh, kan, aku sudah kepikiran macam-macam padahal ini baru cari kata kunci cara masuk ke software yang aku bikin. Sebenernya aplikasinya kayak apa begitu kita berhasil masuk sudah ada di kepalaku, tapi aku nggak yakin bisa mewujudkannya seratus persen kalau aku mulai aja nggak tahu dari mana.

Tapi sebelum aku ketemu temen yang bakal ngajarin aku bikin software, mungkin aku harus cari jawabannya dulu ; v ; Jadi, teka-tekinya itu persis kayak soal bacaan tentang poster atau iklan di pelajaran bahasa Inggris. Disajikan gambar, lalu ada pertanyaan, dan kita menjawab pertanyaan itu dengan mengacu pada gambarnya.

Nah. Gambarnya sederhana:


Berbahagialah kalian karena hanya orang Indonesia yang punya kesempatan untuk bisa menjawab soal ini. (Iyalah, Sya.) Iya, gambarnya di kepalaku sesimpel itu; tulisan sepuluh huruf, yang barangkali itulah kalimat yang kalian baca pertama kali di TK. Pertanyaannya juga cukup sederhana, apalagi jawabannya juga sama; sepuluh huruf.

Tapi ... aku mau coba cari jawabannya dulu. Aku bakal langsung kasih pertanyaannya ke kalian begitu aku sudah ketemu jawabannya. XD /dihantam (2)

cerpen

20. [Fiction] Tentang Sebab-Akibat

Kamis, Juni 22, 2017

Pernah dengar hukum sebab-akibat?

Biasanya kalau dalam percakapan sehari-hari, kita menyebutnya karma, sih: menuai apa yang kamu tanam. Gampangnya, kalau kamu menyakiti hati seseorang, nanti ada saatnya seseorang menyakiti hatimu. Kalau kamu sudah punya pacar tapi buka cabang (?), suatu hari nanti orang yang kamu suka bakal mengkhianati kamu juga. Itu namanya karma, yang kalau aku lebih suka nyebutnya hukum sebab-akibat.

[ blog.udemy.com ]
Sayangnya, kadang hukum sebab-akibat bahkan nggak terjadi sejelas itu. Kita yang melakukan, bisa jadi yang kena akibatnya bukan kita, tapi orang terdekat kita. Nah, ini yang mau aku ceritain sekarang. Karena entah kenapa, ya walaupun sebenarnya kita nggak bisa tahu pasti tepatnya sebab yang mana dari akibat yang menimpa kita, tapi menurutku jauh lebih miris kalau yang menerima akibatnya justru bukan kita sendiri.

Tentang Sebab-Akibat

Daripada pakai alfabet yang bikin aku sendiri pusing, mending kita sebut si tokoh utama ini dengan nama Illia--aku ambil secuplik dari nama aslinya sih. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan dia, dia ini playgirl. Sebutannya sudah nggak zaman, ya, tapi intinya dia nggak pernah benar-benar serius menjalani suatu relasi, dia deketin si ini, si itu, dan ajaibnya, selalu berhasil.

Dia punya sahabat namanya Ami--ini aku ambil dari nama aslinya juga. Aku sebenernya nggak pernah paham sama persahabatannya mereka, karena mereka berdua itu beda banget. Seisi sekolah jelas tahu kalau Illia ini anaknya sangat menjunjung tinggi sosialita, sementara Ami ini relatif biasa-biasa saja. Ami ini punya pacar, yang di sini kita sebut Romy.


PADA SUATU HARI YANG CERAH, Illia pamer ke Ami kalau dia baru saja dapat hadiah dari laki-laki yang lain, anak pecinta alam yang suka ngabsenin gunung satu-satu dengan menaklukannya. Dia dapat kertas tulisannya, "SEMANGAT BELAJARNYA:) 1726 MDPL", artinya tulisan itu dibuat waktu si laki-laki ini sudah sampai di puncak, ketinggian nyaris dua ribu meter dari permukaan laut.


Ami: Terus, kamu balas nggak?
Illia: Masa' cuma kayak ginian aku balas? Aku pulsek ada janjian makan sama si maniak sepak bola anak Aliansi Tenggara.
Ami: Hmm. Kasihan dianya naik gunung bawa-bawa kertas sama spidol, udah repot-repot.
Illia: Yaa nanti kalau dia tahu aku makan sama cowok lain lagi, aku tinggal bilang kalau dia cuma temen.
Ami: 'Lagi'? Memangnya dia langsung percaya? 
Illia: Nah, itu lho, Mik, masalahnya; iya, dia langsung percaya.


Illia sebenernya tahu sih kalau Ami ini nggak pernah bener-bener seratus persen dukung apa yang dia sukai; jalan sama si A, makan sama si B, terus malamnya chattingan sama yang lain lagi. Tapi secara Ami ini orangnya adem dan kalem, tipe-tipe yang sebisa mungkin mencari celah adanya jalan damai, jadi mereka nggak pernah ada konflik.

Dan Illia juga nggak pernah ngepermasalahin, sih. Mau Ami dukung dia atau enggak, toh yang ngelakuin kan, dia sendiri. Nanti kalau hukum sebab-akibat itu beneran ada, yang kapok kan dia? Ami nggak ada rugi-ruginya.


PULANG SEKOLAH, Illia langsung ngacir ke restoran deket sekolah, tempat dia janjian sama si maniak sepak bola ini. Kita panggil dia Sein (yap, aku ngacak dari nama aslinya, dan ... makan waktu agak lama betewe, namanya terlalu susah untuk diacak lol). Sein sudah nunggu, dan Illia nyamperin, lalu mereka ngobrol. Ya, secara Illia ini terlampau berpengalaman, dan dia punya sisi humor yang bagus, dan kebetulan dia lumayan tahu soal sepak bola, jadi seolah mereka nyambung.

Sampai datanglah perusak suasana. Laki-laki yang dari tadi ngelihatin mereka, lalu akhirnya memutuskan buat mendatangi meja tersebut dan mulai menyapa.


[???]: Illia?


Tebak dia siapa?

Begitu namanya dipanggil, Illia sudah berasa seolah disambar petir, sebelum dia menoleh, di dalam kepalanya sudah menampilkan daftar kemungkinan-kemungkinan siapa laki-laki yang manggil dia. Besar kemungkinan kalau yang manggil itu yang pernah dia deketin, dan alarm di otak sudah tersetel mode siaga satu karena gawat banget kalau yang manggil itu si anak gunung. Illia noleh, dan ...

Ternyata itu Romy. Adegannya kayak di sinetron di mana kamera ganti-gantian nge-close up wajah mereka berdua, lalu backsound suara drum, dan momennya berlangsung lambaaat banget berasanya.


Illia: Romy?
Romy: Haloo.
Sein: Siapa, nih?
Illia: ... Pacarnya sahabatku.


Untungnya jawaban itu skakmat buat Sein dan nggak ada alasan dia cemburu (ya kali cemburu sama pacar sahabat?) tapi sekarang Illia yang ... terguncang. Ami nggak bilang kalau dia ada agenda makan siang sama pacarnya, dan Illia juga tahu kalau Ami nggak suka tipe-tipe restoran fast food kayak gini, karena bahkan tuh bocah lebih pilih bawa bekal daripada jajan di kantin. Jadi kenapa Romy ada di sini?


Romy: Ami di mana?
Illia: Sudah langsung pulang.
Romy: Nah. Oke, deh.
Illia: Kamu ke sini ngapain? Makan sama siapa?
Romy: Mau kamu bilangin ke Ami?
Illia: Kamu makan sama cewek? Berdua?


Jelas Illia langsung bisa nebak dengan akurat. Ini yang lagi dia lakukan sekarang; dia juga lagi makan berdua sama cowok lain. Makanya Illia bisa nembak ke arah situ, tahu kalau Romy pasti punya janjian sama cewek lain yang entah siapa.


Romy: Cuma temen kok.
Illia: ...



HABIS NGOMONG KAYAK GITU, Romy-nya pergi. Sein-nya bingung, walaupun dia coba ngerti. Tapi sekarang Illia sudah nggak fokus lagi makan sama Sein, dia mikirin Ami yang hampir setiap hari pasti cerita soal Romy. Sebenernya Illia nggak pernah bener-bener dengerin, tapi pasti Ami cerita. Pasti kalau mereka berdua ngobrol, Ami bakal ujung-ujungnya ngomongin Romy juga. Dan sekarang, Ami nggak tahu kalau Romy lagi makan sama cewek lain.

Illia-nya diem. Waktu Romy bilang "cuma temen", rasanya jleb ke dia. Sekarang dia lagi makan sama Sein yang notabenenya, kalau semisal di sini ada sahabatnya si anak gunung yang memergoki mereka, Illia juga bakal bilang hal yang sama, kalau Sein itu cuma temennya. Persis kayak Romy yang bilang kalau cewek yang dia ajak makan ini cuma temennya juga. Akhirnya Illia nggak tahan.


Illia: Eh, Sein, aku boleh nyamperin Romy bentar nggak?
Sein: Dia tuh lagi makan sama cewek, padahal dia pacarnya sahabatmu?
Illia: Iya. Bentar aja, paling cuma motret mereka berdua terus udah.
Sein: Oke.


Untung Sein ngerti. Akhirnya Illia berdiri lalu pergi, dia nyari ke setiap tempat duduk, minimal dia mau tahu dia kenal nggak sama cewek yang makan bareng sama Romy. Setelah sibuk nyari, akhirnya Illia nemu Romy, duduk di tempat duduk luar, masih sendirian. Dia samperin deh. Romy-nya sudah notis duluan sebelum Illia sampai.


Romy: Belum dateng nih ceweknya.
Illia: Siapa emang?
Romy: Temen doang. Beda sekolah. Kamu nggak kenal.
Illia: Aku bakal bilang Ami.
Romy: Bilang aja. Ami tahu nama ceweknya kok. Seenggaknya, aku pernah nyebut sekali pas aku cerita soal event yang panitianya perwakilan dari sekolah-sekolah, aku sama dia sama-sama divisi Kehumasan. Tinggal ngingetin dia, bilang kalau aku pernah nyebut namanya, trus nekenin kalau kita cuma sama-sama anak Humas.
Illia: Enggak, nggak bakal cuma itu. Emangnya Ami percaya sama kamu?
Romy: Itu masalahnya, Li; Ami bakal percaya.



RASANYA KAYAK BERCERMIN, itu bagi Illia waktu dia ngobrol sama Romy. Jalan pikirannya Romy bener-bener persis seperti selama ini dia memperlakukan semua laki-laki yang dia deketin, jadi Illia bisa memprediksi juga ke mana arahnya. Illia juga tahu kalau semisal Ami nanti tahu, Romy bakal bisa ngeyakinin kalau dia dan si cewek cuma temen.

Sekalipun sempet marahan atau gimana, Illia percaya kalau Ami bakal percaya, Illia tahu pada akhirnya mereka bakal baikan kayak nggak ada yang terjadi. Karena itulah yang ia alami sama laki-laki yang pernah memergoki dia makan sama laki-laki lain, dia selalu sukses bikin mereka damai lagi.


Illia: Kalau Ami tahu, dia bakal sakit banget, Rom.
Romy: Percaya karma nggak, Li?
Illia: Emangnya bagian mana yang karma? Ami nggak pernah makan sama cowok lain.
Romy: Ami-nya enggak. Tapi kamu kan iya.
Illia: ...


Skakmat.

TAMAT


Ceritanya berakhir dengan sanggat nggantung, iya. Tapi itu yang mau kusampaikan sih. Memang hukum sebab-akibat itu misterius dan nggak ketebak tindakan mana berakibat apa, tapi apa yang kita lakukan bisa jadi berimbas ke sahabat kita. Kayak yang terjadi sama Illia sekarang. Dia suka makan sama cowok ini dan cowok itu, lalu ternyata pacarnya sahabatnya juga melakukan hal yang sama.

Walaupun nggak secara langsung nimpa Illia, tapi sebenernya Illia lebih-kurang sudah ngerasain akibatnya juga. Dia seolah 'dipertemukan' sama seseorang yang persis banget kayak dia, hanya saja kali ini seseorang itu berkhianat sama sahabatnya sendiri. Antara nggak terima karena sahabatnya yang sakit hati, tapi nggak bisa menyudutkan juga karena Illia sendiri tipe yang kayak gitu.

dedicated to

19. Tiga Tahun

Rabu, Juni 21, 2017

p o s t i n g a n   s e b e l u m n y a  }


Tiga tahun. Kalau di posisiku, aku menunggu tiga tahun.


Sebut saja namanya H. Dari hantu, LOL. Bercanda ding.

Dan sebenernya, ‘menunggu’ itu kosakata yang salah karena memangnya aku menunggu apa? Lebih tepatnya, aku ditinggal tiga tahun. Persis kayak yang aku ceritain sebelumnya tentang John Watson ditinggal Sherlock, aku pun begitu juga: selama tiga tahun itulah aku jungkir-balik nggak keruan dalam mode five stages of grief, masuk SMA dengan niat nggak membahas ini sama sekali ke teman-teman baru, ikut kepanitiaan, ikut ekskul, mengisi kegiatan sehari-hari dengan segala hal, mencoba sibuk agar melupakan.


[ kelas sepuluh ]

Ini di SMA Negeri 6 Yogyakarta.

Tahun pertama jelas susah. Aku masuk kelas X MIA EP di ruang 212, kelas dengan anak-anak yang ajaib, rumah kedua, keluargaku juga. Semua yang di situ sahabat, kita bahagia bareng, susah-seneng bareng, cunthel bahasa Prancis bareng. Kita berbagi cerita dan ada saat-saat yang sangat susah buatku untuk menahan diri agar nggak melakukan hal yang sama.

Aku ketemu dua sahabat di kelas itu, namanya Lisa dan Shelly. Kita bertiga dekeeet banget, ke mana-mana selalu bareng, gila-gilaan ya pernah, marahan ya pernah (dan sering lol), alay juga pernah. Saking deketnya kita ngerasa kalau kita bertiga ini bener-bener saling melengkapi, Shelly bilang kalau masing-masing dari kita ini sepertiganya kita. Kayak gitu, deh.

Lalu, aku lupa siapa di antara mereka yang mulai lebih dulu, tapi akhirnya aku nggak tahan juga untuk menceritakan tentang H ke mereka. Tapi, ya, aku nggak pengin bener-bener ketahuan, jadi aku ceritanya ke Lisa dan Shelly secara terpisah.


[ shelly ]

Jadi, aku masuk kelas sepuluh itu, aku punya satu akun media sosial yang kunonaktifkan. Kalau ditanya, aku selalu bilang kalau aku nggak punya, padahal aku sebenarnya pernah punya. Lewat akun itu aku sering ngobrol sama H ini; jadi saking alay-nya kita, kita mengunduh aplikasi chatting yang anti mainstream dan cuma sama H aku pakai aplikasi itu.

Waktu aku main di rumahnya Shelly, harusnya ada Lisa juga tapi Lisa belum datang, Shelly ngajak aku bikin akun di media sosial itu. Akunya sempet bereaksi kayak orang kena kejut listrik, karena aku sebenernya kadang-kadang sudah nyaris melupakan, terus tiba-tiba di siang bolong aku dibikin keinget lagi.

Akhirnya kita berdua bikin akun itu. Lalu janjian saling ngobrol di sana. Lambat laun, kita lebih sering pakai LINE, dan toh kita berdua ketemuan setiap hari, jadi akun itu terabaikan begitu saja. XD Cuma bertahan beberapa hari, ya? Toh kita berdua nggak ada yang nganggap ini berat-berat, jadi ya sudah, mari kita lupakan kalau kita pernah bikin akun di media sosial ini. XD


[ lisa ]

Kalau ke Lisa, aku cerita tentang H pas perjalanan yang aku lupa dari mana mau ke mana, tapi waktu itu kita lagi di motor dan aku boceng dia. Biasanya kalau aku mau inget H itu pas aku lagi sendirian dan lagi ngerasain angin, sementara itu posisinya kita lagi diem dan anginnya kenceng. Oh, aku inget. Ini waktu kita nyasar kayaknya. Eh, aku lupa juga, sih.

Sayangnya, aku malah cerita hal-hal tentang aku sama H yang nggak penting. Kita nggosip, kita ngomongin kemampuannya H yang bisa tahu seseorang bohong atau enggak, ngomongin sepak bola dan betapa anak-anak kos di deket rumah H ribut banget kalau bola masuk gawang, segala cerita dua-anak-bersahabat yang normaaaal banget.

Iya, aku nggak bilang ke Lisa kalau H sudah nggak ada. Jadi, aku malah nggak cerita bagian terpentingnya. :”) Waktu itu aku lagi butuh orang buat aku ceritain untuk mengenang bareng saat-saat aku sama H, dan Lisa yang lagi ada sama aku, jadi aku cerita aja. Aku pengin mengenang momen yang nyenengin, jadi aku cerita yang seneng-seneng aja. :”)


[ kelas sebelas ]

Naik ke kelas 2 SMA, aku di 11 IPA 6. Hah, alhamdulillah, aku punya banyak banget permasalahan di sini yang bikin aku stres LOL. Mulai dari ekskul, kakak kelas, kegiatan, sahabat, sekolah, dan lain-lain, sampai nggak bisanya aku berbaur sama temen-temen sekelasku. Pesan moralku dua semester di bangku kelas sebelas ini: aku bisa lupa. Aku bisa lupa! Yay. Kayaknya aku nggak pernah sekalipun ingat soal H di kelas sebelas ini. :)))


[ kelas dua belas ]

Aku di 12 IPA 5. Aku deket sama Jihan, Fatma, Afi, Dhiar, Oca … temen-temen sekelasku di sini seru dan asyik pakai banget. Kita punya banyak tekanan kelas dua belas yang sebentar lagi ujian, jadi untuk beberapa saat, aku masih lupa tentang H. Aku nggak ingat kapan persisnya, tapi yang jelas waktu itu pemicunya adalah aku sendiri, sih. Aku cuma lagi merenung, lalu tiba-tiba, datang tak diundang, aku inget H.

Yang ada di pikiranku cuma:


Wah, aku sudah bisa melupakan, ya?


Oke, tentu kalau aku ingat, artinya aku nggak lupa, dong. Waktu itu mungkin menjelang semester dua, aku mulai bisa buka akun media sosial yang nggak pernah kubuka lagi, cuma buat baca-baca ulang hasil chattingan-ku sama H. Dia ada masalah dan itu bikin dia harus pergi, dari sini. Aku sudah ngerasa nggak papa, aku sudah ngerelain kepergiannya dia yang tiba-tiba banget.


[ 2017 ]

Aku ngucapin dia selamat tahun baru. Aku ngetik di aplikasi itu, di chattingan-ku sama H. Waktu aku ngetik tanpa mikir lagi, aku mulai ngerasa kalau jangan-jangan aku sudah nggak waras kali, ya? Aku sudah tahu kalau H nggak mungkin bisa bales lagi, dan buat apa aku ngirim dia chat?


met taun baruuu /telat


Tapi, ya, tetep kukirim juga sih. (…)


[ kelulusan ]

Pas aku wisuda SMA, aku tiba-tiba keinget sama dia. H yang nggak pernah bisa bikin aku marah, H yang bilang kalau aku punya bakat jadi tukang bersih-bersih (dan bahkan sesering apa pun dia bilang ini, dia tetep nggak bisa bikin aku marah). Aku kadang-kadang memang keinget lagi, tapi sudah bukan dalam tahap untuk bikin aku sedih, tapi buat kukenang aja.

Aku mendadak ingat kali pertama kenalan sama H, begitu aku pindah rumah pas kelas 3 SMP. Dia kelas 3 SMA, jadi kuanggap kakak. Cuma setahun kita bareng, tapi rasanya kayak kita saudara yang sudah terpisah dari lahir. Menjelang aku persiapan ujian SMP, dia juga siap-siap mau lulus SMA, jadi akhir semester dua aku sudah nggak menyempatkan diri buat ngobrol.

Lalu, kita ngobrol pas aku nunggu pengumuman NEM SMP. Aku tanya, dulu NEM SMP-nya dia berapa, dan dia jawab 37,8. Iya, H ini pinter, tapi ada satu dan lain hal yang bikin dia ke SMA yang sangaaaat biasa-biasa saja, dan itu adalah masalah ekonomi dan transportasi. Dia pengin cari SMA yang murah dan deket sama rumah soalnya.

Di hari yang berdekatan dengan itu, H cerita kalau dia punya masalah yang ada kaitannya sama ekonomi, keluarga, dan berkas melengkapi kelulusan. Lalu kejadiannya cepet banget, dia bilang kalau ponselnya dia hilang. Akunya nggak langsung percaya, karena, ponselnya hilang? Iya, bertransformasi jadi uang, mungkin ya? Kenapa bilangnya hilang?

Lalu, begitu sajalah, dia pergi. Waktu itu tahun 2014.


[ john watson ]

LOL, kenapa langsung mendadak pindah ke sudut pandang blogernya Sherlock Holmes?

Ini yang kubilang di postingan sebelumnya, kalau postingan ini punya kaitan. Waktu aku kali pertama nonton “The Reichenbach Fall”, pas bagian Sherlock nelpon John dan nyuruh John ngelihatin dia terjun dari atas gedung, di situ Sherlock juga mengungkapkan kebohongan.

Dia bilang kalau dia bohong soal kepintarannya. Sebenernya dia selalu mengumpulkan data-data sebelum menganalisis, sebenernya musuh bebuyutannya dia cuma orang teater yang dia bikin untuk kepuasannya sendiri. Sherlock cerita semuanya ke John, terlalu nyata sampai aku nyaris percaya, tapi John cuma dengerin dan komentarnya dia:


Kenapa kamu bilang gitu?


Atau saat Sherlock datang lagi setelah dua tahun, semuanya menyambut dan orang-orang penasaran bagaimana bisa Sherlock pura-pura meninggal, menipu sahabatnya, semua orang, dan dunia, orang-orang saling berkumpul untuk membahas kira-kira bagaimana Sherlock melakukannya. Sherlock cuma pengin jelasin itu ke John, dan John bilang:


Aku nggak peduli bagaimana kamu melakukannya. Yang aku tanya, kenapa?


Memang, episode itu sedih, tapi aku nonton itu dalam posisi aku bisa ngerti perasaannya John bagaimana. Sedihnya, marahnya. Salah apa, aku harus melakukan apa sampai kamu mau cerita semuanya? Kenapa aku yang mau mendengarkan di sini, tapi kamu nggak memberiku ruang dan waktu untuk memberiku kesempatan memahami? Kenapa?


[ kembali ]

Kamu balik.

Hari Minggu kemarin, tepat jam setengah sembilan pagi.


[ kenapa? ]

Mungkin kata tanya kenapa itu kata yang paling emosional di antara kata tanya yang lainnya.

Tiga tahun, H. Tiga tahun.

Kamu pergi tiba-tiba, kamu nggak ngasih tahu tepatnya kapan, nggak ada ucapan selamat tinggal, berlalu dengan setumpuk pertanyaan yang nggak kaubiarkan aku untuk tahu. Dari kamu, aku bisa mendengar cerita-cerita aneh bin ajaib, tentang teman-temanmu di sekolah, sisi dunia yang nggak bisa kumasuki, celetukan sederhana yang receh, atau tentang geng tiga orang pecinta misteri yang kaubentuk dengan dua teman sekolahmu.

Lalu begitu kamu pergi, aku sadar kalau kamu mungkin cerita semuanya tentang dunia di sekelilingmu, tapi kamu nggak pernah cerita tentang kamu sendiri. Kamu bilang kalau sistem memilih anggota OSIS di SMA-mu itu sama sekali nggak layak dan harus diubah, tapi apa pendapat pribadimu sebenarnya?

Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang kamu? Kenapa kamu bilang kalau ponselmu hilang? Kenapa kamu tiba-tiba pergi? Lalu sekarang, kenapa kamu tiba-tiba datang?

Semuanya kayak serba salah di kepalaku. Aku nggak serta-merta ingin kamu pergi, tapi aku juga marah melihat betapa gampang dan nggak bersalahnya kemunculanmu di depanku, tapi kamu yang membuat semuanya begini sekarang.


Setelah semua ini, serius?


[ sekarang ]

Sekarang, aku nggak tahu harus bagaimana. Tiga tahun ini terlalu lama, H. Aku sudah lupa, aku sudah mau menjalani hari tanpa inget kamu. Kamu butuh untuk kupukul, kucekik, kuhantam kepala lebih dulu dan bagiku ini nggak cukup untuk langsung menerimamu lagi, bermain-main, di sini. Ada rasa marah tapi ada juga rasa kangen. Kalau kamu beneran kakakku di dimensi lain, kujamin kamu itu kakak paling jahat dan paling berdosa besar di dimensi mana pun di semesta ini.

Campur aduk di kepala, nggak tahu mana yang harus dipikir duluan. Aku bisa sukses menamatkan kisah SMA-ku tanpa sedikit pun bercerita mengenai kedepresian tentang kamu ke teman-temanku, tanpa kusebut nama kamu, aku bahkan sudah lupa sama kamu. Aku. Marah. Banget. Semua kata-kata sumpah serapah rasanya ada di kepala, tapi aku nggak mungkin sanggup mengeluarkannya satu huruf pun juga, karena semuanya terakumulasi lebih dari cukup menjadi satu kata, yang diakhiri tanda tanya besar, KENAPA?


Kenapa datang lagi?
Aku mau kamu pergi.