film

Aladdin & Hercules

Rabu, November 29, 2017

Aku mau cerita kenapa dari semua karakter Disney yang ada - kayaknya sih, aku nonton semua deh. Aku nonton semua sampai aku nonton Bambi si Kancil, terus ada tikus, ada katak, aku nonton Cinderella, Beauty and the Beast, Ariel, banyak kok, sampai Pocahontas juga - aku paling suka sama cerita Hercules. /w/ Dari awalnya aku nonton di TV, entah kenapa aku jatuh cinta sama si ceweknya, Meg. Dia sassy sekaliiiii. XD

Oke, sebenernya itu sih. Aku suka Hercules karena di sana ada Meg; dan Meg adalah cewek yang pernah patah hati, nggak naif, nggak ingin dianggap lemah, manipulatif tapi benci dirinya sendiri ... dia sangat kompleks. Dan aku suka banget lagunya dia, I Won't Say I'm in Love, pas dinyanyiin sama Catherine Charlebois di The Broadway Princess Party. x)))

Intermeso sebentar, dulu aku kira idamanku adalah Arthur. Iya, Arthur Kirkland yang di Hetalia. Sampai sekarang masih idaman sih /YHA/ tapi ... makin ke sini, makin aku mendalami karakter Arthur, aku jadi ngerasa kalau Arthur itu adalah aku ..... :"))) Aku bisa sangat ... deket, sama karakter ini, sejak pertama kali dipertemukan. Karateristiknya, ambisiusnya, rasa kompetitifnya, atau bahwa dia sebenarnya adalah orang yang sangat ... gelap (?).

Dan makin sering aku bikin fanfiksi tentang Arthur, aku jadi bisa curcol hAHAHAHA. Aku pernah bikin fanfiksi tentang sisi gelapnya Arthur, yang sebenernya itu kubikin waktu aku lagi marah tapi maksain nulis. Jadi aku nulis sambil marah-marah o(--( Dan itu kupersembahkan untuk geng PANZER, Nabila sama Nana. 

Balik ke topik. Jadi, kenapa judulnya Aladdin & Hercules? Ini agak jones banget sih sebenernya, tapi dua cowok (?) ini adalah tipe cowok di Disney yang aku paling suka, dan ada momen favoritku tentang masing-masing dari mereka ketika mereka memperlakukan cewek mereka, Jasmine & Meg. 

Aladdin & Jasmine

Ini pas pertama kalinya Jasmine naik ke karpet terbang. Pernah tahu nggak, momen-momen serbaromantis antara cewek sama cowok, pas ceweknya itu sedang sangat takut? Biasanya kalau di cerita mainstream yang ada, pas si cewek sedang takut, cowoknya itu ngelakuin apa? Yang pertama: mereka pelukan. Yang kedua: cowoknya bakal nyuruh si cewek nggak usah lihat mana-mana, inget aja kalau si cowok ada di sini.

Tapi apa yang dilakuin Aladdin pas Jasmine nutup mata pakai kedua tangannya?

Aladdin ngelepasin kedua tangan Jasmine, dan bilang: "Jangan beraninya tutup mata."

Itu bener-bener SANGAT ... manis. Aladdin nggak meluk, Aladdin nggak ngelanjutin kalimatnya dia dengan meyakinkan Jasmine kalau dia ada di sini. Jasmine nutup mata, dan Aladdin bilang kalau jangan beraninya Jasmine tutup mata. Udah. Mereka tetep terbang. Karena dengan bilang itu sudah lebih dari cukup untuk Jasmine, gitu lho. :")

Hercules & Meg

Mereka berdua lagi jalan-jalan di deket air mancur, ketika ngobrolin tentang diri mereka sendiri. Dan ada percakapan seperti ini:

Meg: Semua orang itu picik dan suka membual.
Hercules: Kamu nggak seperti itu.

Kesalahan manusia untuk menyangkal sesuatu adalah biasanya mereka mengaitkan itu dengan diri mereka sendiri. Yang sering terjadi ketika si cewek yang bilang, "Semua orang itu picik!" adalah si cowok membela diri, "Aku nggak seperti itu." Kenapa harus gitu? Dan di sini aku suka waktu Hercules justru bilang ke Meg, "Kamu nggak seperti itu." 

ITU MANIS JUGA HEHEHEHE. Aku sukaaaaaa banget sama momen itu. :")))

Syuda yaaaaa. /o/

out of character

Sangsi sama suatu karakter.

Jumat, November 24, 2017

Wah, udah lama banget aku nggak nulis di blog ini dengan tujuan untuk nyampah (?) karena sebenernya aku lagi sangat kesal dan blog adalah tempat yang pantas untuk jadi pelampiasan. Oke, jadi latar belakang aku nulis blog ini adalah ruang toleransi di kepalaku mengenai "suatu karakter yang bertindak di luar karakterisasinya" sudah kelewat batas. Biasanya ada istilah OOC - out of character - itu kalau kita bikin fanfiksi dan karakter yang kita pakai sifatnya beda sama sifat yang di karya aslinya.

Nah, ini tuh ... beda. Ini tuh, aku nganggap seorang karakter OOC, tapi itu bahkan masih di karya aslinya. Karena aku nggak mungkin komentar (siapa aku, ngekritik karakter yang dia bikin itu OOC? XD) jadi aku marah-marah di sini aja.

Maya.

Maya NGGAK MUNGKIN mau ngeiyain apa yang dibilangin sama Jordan. Hah. Dia adalah orang yang sangat membela kebenaran, dia tahu yang bener mana dan yang enggak mana, dia anak yang pinter di kelas, dan dia tahu seberapa baik Radi itu sebenernya. Dia jelas tahu ini karena Radi bahkan bela dia waktu Maya difitnah ngerokok, dan Maya harusnya nggak pikir panjang untuk tahu kalau Radi punya maksud baik di balik itu pas dia ngelarang Maya masuk grup PEDAL.

Dan ini apa?? Hanya karena Maya pengin banget ikut lomba, ngelakuin hal yang hanya penting buat dia, dia langsung mau masuk PEDAL? Tanpa bilang apa-apa dulu ke Radi? Kayak bukan Maya sekali ya. Walaupun dia belum ngasih respons ke Radi apakah dia bakal nurut atau enggak, harusnya yang terngiang di kepala Maya adalah perkataan Radi yang ngelarang dia, bukan perkataan Jordan yang ngasih syarat dia bisa ikut lomba kalau masuk PEDAL.

Sebenernya aku maso juga sih baca webtoon ini :( Tapi aku bertahan demi Maya :(
Dan sekarang Maya jadi begini :(((

kerja

Balasan E-mail

Kamis, November 16, 2017

Halo. Sekarang jam 15:20 dan hari ini hujan dan aku tadi pulang-pulang nggak pakai jas hujan sepanjang perjalanan, walaupun keadaan membaik karena aku sudah minum milo sama makan mi tapi kakiku masih kedinginan .... Oke nggak penting banget ya. Hmm. Banyak yang pengin aku ceritain karena banyak hal yang terjadi (?) tapi karena terlalu banyak itu aku jadi bingung mau cerita apa ....

Aku mau berbagi kesenangan. Walaupun entah kenapa rasanya gaya berceritaku suram, dan aku sebenernya tahu ini dipengaruhi karena apa (1) internetnya lama banget huhuhu sampai aku nulis ini, udah berapa kali aku harus diem sebentar karena huruf-hurufnya belum keluar semua padahal aku udah nulis :'( kayak yang terjadi barusan :'( (2) kakiku kedinginan ... nggak serius kakiku beneran kedinginan, dan cuma bagian kaki aja ... udah pakai minyak kayu putih padahal tapi masih kedinginan, dan licin (?), dan dingin (???). Eh serius ini nggak penting banget, Rasya ngapain sih, oke kawan ini paragraf deduktif jadi baca kalimat pertama aja yes.

Jadi beberapa hari ini aku berpikir ... walaupun nggak juga sih (?). Pernah kapan gitu aku sama Dek Dama, sama Ayah, sama Bundil, GO-CAR, dan supirnya ternyata seseorang yang baru aja lulus dari suatu universitas di Yogyakarta jurusan Ilmu Pemerintahan, dan dia nggak dapat pekerjaan walaupun udah sampai coba ke Jakarta segala, dan akhirnya memutuskan pulang, berniat cari uang dengan nge-GO-CAR dulu. Dia sudah nge-GO-CAR ini sebulan.

Setiap manusia punya jenis pertanyaan yang dia hindari ya, kalau zaman dulu aku suka menghindari pertanyaan, "Mau masuk jurusan apa?" atau minimal, "UN pilih mata pelajaran apa?" karena itu hal yang aku belum tahu bakal seperti apa. Dan sekarang aku takut kalau membayangkan apa yang bakal kulakukan setelah lulus ... atau minimal, Sastra Indonesia bisa memberiku tempat di mana kalau aku butuh duit?

Temen sekelasku ada yang kerja jadi MC. Dia suka nge-MC di mana-mana, udah bisa cari uang sendiri di situ. Karena banyak banget yang dari luar Jogja dan mereka punya fokus untuk cari uang, mau nggak mau aku sendiri juga kepikiran. Masalahnya, aku cari kerja di mana ... pada suatu hari di hari Sabtu, aku nggak ikut pelatihan anak magang KRJogja.com dan itu bikin aku dicoret dari daftar peserta seleksi huhuhu meninggalkan aku di sini mengais-ngais tanah atas kebutuhan akan pengalaman (?).

Lalu ... akhir-akhir ini aku punya temen baru, namanya Nabila dan Nana. Aku yang cinta Inggris, Nabila cinta Italia, Nana cinta Jerman. Bertiga, kami adalah "TRIO PANZER: In Pasta We Trust". Kami sangat nggak penting (???), apalagi akhir-akhir ini lagi bekennya Piala Dunia dan Nabila lagi berduka karena Italia nggak masuk Piala Dunia :( Puk puk, ya, Mbil. Mereka berdua bikin aku makin suka sejarah dunia, apalagi Nana minjemin aku buku Perang Dunia II Eropa yang DIKIRIMIN LEWAT POS. NIAT BANGET DIRIMU. AKU NANGIS BAHAGIA. MAKASIH YA NA. :")))

Dari belajar sejarah, aku lupa pada titik apa, tapi ada momen aku dipertemukan dengan website ini: HistoriBersama.com. Itu adalah website yang dibikin dengan tujuan membandingkan sudut pandang Belanda dan Indonesia. Jadi, kayak gimana cerita penjajahan Belanda di Indonesia versi Belanda? Aku baca bentar dan aku sangat tertarik, apalagi pas aku baca kalau Indonesia pernah nyerang truk yang isinya wanita dan anak-anak. Itu nggak diceritain di sini dan aku baru tahu. Makanya aku jadi pengin tahu lebih, sebenernya di Belanda tuh mereka diajarin apa?

Karena Indonesia-Belanda itu terpisahkan oleh jurang pengetahuan akan bahasa satu sama lain. IYALAH, BELAJAR BAHASA INGGRIS AJA TERPONTANG-PANTING APALAGI BAHASA BELANDA (........) /SANTAISYA. Dosen Filologiku, Pak Sudibyo, sangat bisa bahasa Belanda dan sangat bagus :"( Oke, di website itu ada tiga versi bahasa; Indonesia, Inggris, Belanda. Aku baca-baca beberapa dan ternyata ada beberapa artikel yang belum ada terjemahan bahasa Indonesianya. Website-nya itu masih kurang sumber daya dari Indonesia; padahal aku tersentuh mereka namain itu "Histori Bersama". :')

Akhirnya aku bilang kalau aku pengin bantu, buat nambahin pengalaman, dan nerapin juga kemampuan ngeterjemahin dari bahasa Inggris ke Indonesia dari ilmu di Bahasa Inggris Sanata Dharma, lalu nuangin ke dalam struktur kalimat yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia dari ilmu di Sastra Indonesia UGM. Aku awalnya nggak yakin sih apakah perlu bilang kalau aku juga belajar Sastra Indonesia; karena toh kalau jadi penerjemah kan cukup bilang aja kalau aku belajar Bahasa Inggris.

Terus dibalas, dan aku deg-degan bacanya, dan ternyata aku dapet misi lain (?).

Aku dikenalin sama orang Indonesia yang pengin bikin esai bahasa Inggris. Dia punya esai bahasa Indonesia yang mau diubah ke dalam versi bahasa Inggris. Dia udah pernah coba bikin versi bahasa Inggrisnya tapi dinilai kurang begitu bisa menyampaikan. Jadi aku dikasih lihat dua dokumen itu, yang perlu diperbaiki bahasa Indonesianya atau bahasa Inggrisnya. Karena aku pikir masih ada yang perlu diedit di esainya dia yang versi asli, jadi aku jawab kalau diperbaiki dulu bahasa Indonesianya.

KEMUDIAN DATANGLAH JAWABAN YANG BIKIN AKU SENANG, dan inilah kesenangan yang kumaksud di kalimatku "Aku mau berbagi kesenangan":

How lucky we are that your major is Indonesian literature. :)
How lucky we are that your major is Indonesian literature. :)
How lucky we are that your major is Indonesian literature. :)

Itu ............................... kayak gema di kepalaku. :"))))))
Aku seneng banget, banget, BANGEEET. Pertama kalinya ada yang bilang kayak gitu jadi rasanya kayak terbang, seneeeeeeng banget. :") ALHAMDULILLAH SENENG BANGET RASANYAAAA :"DDDD
/UDAHSYA

Oke hehehe aku mau berbagi kesenangan itu.
Makasih ya sudah baca, minta tolong doanya semoga aku bisa membahagiakan mereka (?) :")))

Hiatus?

Sabtu, November 04, 2017

Hm. Mau cerita apa ya. Aku jarang memberi kabar di blog huhu, btw aku udah selesai UTS, dan susah *yha* dan aku masih bersyukur mata kuliah Agama Islam Kontekstual nggak ada UTS yay! Itu yang selalu aku pikirin tiap kali ada matkul Agama, merasa berterima kasih pada si Bapak, semoga kapan-kapan aku bisa kayak si Bapak pergi ke Inggris ya :”)) *nggak nyambung*

Dari kemarin aku sedih karena nggak sengaja baca cerita sedih (?). Aku gara-gara penasaran sama penulisnya jadi baca-baca ceritanya. Sengaja baca yang ditulisnya udah agak lama, dan terus kubaca, dan WHAT DO YOU MEAN AKU BACA CERITA YANG SANGAT SEDIH :”””))))) Aku baper banget sampai aku jejeritan ke Nail dan dikira nangis (…………)

Aku bener-bener butuh hiburan dan sekarang aku kalau butuh bahan receh selalu pergi ke Shape of You-nya Malinda Kathleen Reese. MANJUR BANGET!! Aku dikasih itu sama Nail dan aku nggak pernah ketawa selama itu di 2017 ini :”)))))) Itu sangat receh dan aku sangat sedih oleh parameter humor yang dikeluarkan otak bagian tertawaku karena itu membuatku jadi manusia murah (?) :”)

Habis itu hari ini Nana ngasih aku dua cerita, dua-duanya sangat sedih, iya IYA PLIS YA itu lho yang kumaksud kalau nulis lebih gampang dari pada baca; karena nulis cerita sedih lebih gampang dari pada baca cerita sedih :”))) Entah kenapa aku ngerasanya gitu. Cerita Nana yang pertama cuma sanggup kubaca awal-awal, dan yang kedua BLAS NGGAK KUBACA LAGI SETELAH BARIS PERTAMA. Aku udah tahu ini arah sedihnya ke mana dan ini adalah jenis sedih yang aku bener-bener bisa nangis LITERALLY NANGIS NGGAK CUMA HANYA EMOT TITIK DUA PETIK DUA BANYAK-BANYAK :””””)))

Terus ada lagi, kejadiannya sebelum aku tahu kalau Nana ngasih aku dua cerita; Nana juga ngasih aku link video. Itu video yang sangat sedih, GRAO bener-bener tidak ada batas antara penjahat dan korban, aku jadi bingung mau kasihan sama siapa?!?!? Kenapa dunia bisa jadi sekompleks itu why aku nggak paham? Siapa yang jahat dan siapa yang korban kenapa dua-duanya salah tapi dua-duanya kasihan??? Oke itu video tentang ajang pembalasan dendam seorang yang tertindas tapi ya kenapa kamu balasnya dengan jahat dan SANGAT JAHAT????

Eh terus aku nangis deh nonton video itu. Nangis beneran nangis aku sampai sedih sama diriku sendiri kenapa diriku bisa sangat receh dan bisa sangat mudah nangis di saat yang bersamaan :”) Tapi ya emang gitu sih ya, sekali murah akan murah hingga seterusnya (….) /SYA

Btw trus aku mau bilang karena dari pada aku menggantungkan harapan (??) pembaca sekalian (SIAPA) yang baca blog ku, aku mau bilang kayaknya aku hiatus dulu deh nulis di blog ini :”)))

Btw (2) aku habis nonton video di YouTube tentang seseorang yang menjelaskan betapa susahnya menjadi penduduk Amerika, dan di situ aku dapet quotes bagus: A lot people say, why don't you just stand in line? And well, I'm not sure there's much of a line for you to stand in.

video

Tergantung

Rabu, Oktober 04, 2017

Aku sering bingung kenapa orang (aku) bisa sestres itu kalau ada masalah kecil, tapi ada orang (bukan aku LOL) yang bisa sangat santai padahal masalahnya besar. Lalu pemikiran itu ketemu jawabannya; bahwa ternyata orang itu beda-beda, ada yang A ada yang T (plis sya, MBTI banget sih), ada yang bisa tetep tenang ngelihatin orang bakar bendera, ada yang ribut-ribut ikut lari sana-sini berasa jadi orang yang penting aja.

Terus, berkat rekomendasi dari Mas Anas, aku buka channel YouTube-nya JacksGap. Bukan pertama kalinya sih aku stalking-stalking YouTube nyariin anak-anak yang hobinya nge-vlog, tapi pada akhirnya aku mikir lebih asik kalau cari aja di search-nya langsung apa yang mau dibutuhin; rekomendasi wisata, perbedaan aksen Amerika sama Inggris - karena kalau vlog, kan, lebih random jatuhnya.

Biasanya kalau YouTube, aku cuma lihat-lihat AMV (krik), kalau enggak fanvid-nya Sherlock (KRIK), atau yang terbaru tuh ngikutin America's Got Talent sama X Factor UK. Kalau ada peserta yang bagus dan aku suka sampai banget banget, biasanya dengan selo aku cari orang-orang yang nge-react video itu LOL.

Apa lagi ya? Pokoknya aku nonton YouTube itu untuk (1) memenuhi keinginan untuk ber-fangirling (?) misalnya: lihat-lihat kompilasinya Darci Lynne, Angelina Jordan, Grace VanderWaal, Chase Goehring (jebolan Got Talent semua ya, Sya), sampai merembet ke Issy Simpson atau Paul Zerdin (masih Got Talent), atau masih suka nonton ulang audisinya Celine Tam sama finalnya Angelica Hale (masih Got Talent) ... bahkan kalau masih ada waktu aku kadang nonton kompilasi kesarkasmeannya Simon. (..............)

Oh, aku juga nonton Glee. Bagian lagu-lagunya aja sih, dan karena favoritku itu karakter Quinn Fabray sama the Warblers, jadi aku sukanya pas mereka yang nyanyi aja. Quinn bagusnya cuma di I Feel Pretty/Unpretty sama Never Can Say Goodbye, jadi aku sering banget nonton ulang yang itu. The Warblers banyak yang kusuka (...) deleted scene yang I Want You Back aja aku suka (.....). Tapi aku paling suka The Warblers pas Blaine sama Kurt masih ada sih, yang Bills, Bills, Bills.

Dan (2) menambah ilmu pengetahuan (hAHAHA) kalau aku lagi males baca (...). Bukan males sih sebenernya, tapi kalau aku pengin tahu tl;dr-nya aja (TLDR: too long, didn't read -- versi pendeknya) misalnya cerita sejarah kayak Perang Teluk atau apa, nonton infografisnya tuh ada kesan kalau ingatannya bertahan lebih lama gitu. XD (ngeles) Atau, kan aku INFJ-T di MBTI, aku cari-cari info soal INFJ tuh lewat YouTube.

Nah, setelah direkomendasikan, aku akhirnya nonton channel JacksGap. Secara dia dari Inggris, dan aku pengin belajar aksennya sana juga (wAHAHA /SYA), dan aku pengin ke sana juga (aAMIIN), makanya aku dengan semangat ngunjungin channelnya. Scroll agak jauh karena aku pengin nonton dari awal, dan hasilnya ....

... ini balik ke apa yang jadi pemikiranku sebelumnya; soal sikap setiap orang kalau dihadapkan pada suatu permasalahan, apakah mereka stres atau enggak, apakah mereka A atau T. Aku tahu kalau ada beberapa orang yang mereka bisa mengatakan suatu hal begitu berat yang harusnya nggak diucapkan dengan ekspresi sesantai itu, dan aku juga tahu kalau di Britania ada istilah stiff upper lip yang cukup mindblowing sih kalau menurutku; tapi aku pengin bisa kayak gitu, tapi aku nggak nyangka aja aku masih tetep nggak habis pikir waktu contohnya muncul di hadapanku.

Kayak di videonya JacksGap ini.

Jadi, Jack namanya, waktu itu (2011 LOL) dia bikin channel namanya Jack's Gap karena video itu dibikin saat dia gap year - menunda satu tahun untuk kuliah. Dia berkomitmen kalau bakal bikin vlog tiap minggu untuk menceritakan apa yang dia lakukan dari Senin; jadi memotivasi keproduktifan gitu. Aku sendiri setuju sih kalau itu adalah hal yang sangat produktif, dan aksennya dia juga alasan yang bikin aku masih bertahan buat nonton (yHA SYA), jadi aku terus lanjut.

Lama-lama, kan dia cerita soal dia, nih. Kalau dia gap year karena nilainya dia A, A, C -- padahal yang dibutuhkan minimal A, A, B (...). Dia menceritakan gimana perasaannya dia pas nggak bisa lanjut kuliah padahal sudah seharusnya setelah sekolah itu kuliah; tapi detik demi detik selama dia cerita aku cuma bisa ... bingung bagaimana harus bereaksi. :")

As soon as you finish school, and if you don't get into university, suddenly everything sort of falls apart. And everything seems to be unsure. But, yeah, so, I'm sort of in a limbo at the moment; I have no job, no school, no university. Nothing.

Like I could go and shave all my hair off tomorrow, and it wouldn't matter. Like, who would it matter to? Or I could move to India and become a Carthusian monk - right? What would a matter? Maybe my parents would miss me a bit, but that's it. It's kind of a weird thought, so ... yeah.

Apart from being suicidal, I'm fine.


... Apalagi kalimat terakhirnya tuh lho. Sangat ... stiff upper lip, dan entah kenapa aku suka. Itu sangat British sekali ya nggak sih. :")))) (yha) Btw yang mau lihat videonya bisa klik di sini. Ayo kita maraton bersama-sama! XD

puisi

I Hope Life Treats You Kind, (Indonesia)

Minggu, Oktober 01, 2017

Bodoh Amat
Karya: Rasya Swarnasta

Hidup kembali
Bingkai darah pada bangkai
Dingin
Seputih bulan

Sesombong sampah
Sesumbar saja bisa ia
Pada hujan
Mentang-mentang jadi banyak!
Mayat Salemba
Manusia

Sekias merdeka atau mati
Karena kau takbenar ingin mati
Atau merdeka
Lalu mati

Bukan hanya pejabat yang bisa bangsat
Manusia belingsat
Dari darah
Dari Tuhan
Dari firasat

Dasar radikal
Bisanya bakar bendera saja
Hujan juga bisa marah
Kayak hakim
Ancaman tatar celana dalam

Kabur bisa mereka
Kalau bisa!

Bah
Indonesia pada akhirnya tetap Indonesia juga


Yogyakarta, 1 Oktober 2017
10:43

gak berlabel

Gaya Bahasa

Senin, September 18, 2017

Sebenernya gaya bahasa cerpenku tuh, kayak gimana? Aku sering bingung sendiri mikir itu. Padahal aku lebih dulu nulis cerpen daripada nulis puisi, tapi aku udah bisa nebak gaya bahasa puisiku duluan daripada gaya bahasa cerpenku ;;-;;

Di tengah-tengah kegalauan itu, waktu mata kuliah Agama Islam Konstektual, Nail ngajak aku bikin cerpen berantai. Jadi Nail nulis beberapa kalimat, terus aku sambung, terus Nail sambung, gitu terus sampai nanti tamat (atau nggak tamat-tamat?) XD

Nail nulis duluan kan. Kertasnya sudah menghilang entah ke mana sekarang, tapi aku masih inget kalau Nail memulai cerita dengan seting horor; cangkir terguling, genangan kopi .... Aku sering sih bikin cerpen horor, tapi biasanya nggak mulai dari awal horor; mungkin di akhir atau bahkan kusiapkan buat plot twist.

Sekali, aku bikin cerpen horor yang dari awal bANGET udah horor daaaaan aku creepy sendiri selama proses pembuatannya :")) Bikinnya malem-malem, aku mikir kalau kusimpen buat besok pagi kemungkinannya kecil buat kulanjutin, jadi cerpen itu selesai sekali duduk :") Melibatkan fans fanatik, tokoh yang sakit jiwa, minum racun, tangan keluar dari kuburan, endingnya penghapusan eksistensi tokoh utama yang mati--agak klise sih bagian ini soalnya predictable plot buat genre horor o(--(

Terus balik lagi ke cerita. Aku baca dua baris yang udah Nail bikin jadi nostalgia sama cerpen horor pertama (dan terakhir?)ku soalnya. Akhirnya kulanjutin sebisaku kan, yang bikin Nail tambah bingung (.........) karena aku malah merusak (.............) terus ya pokoknya ceritanya berlanjut.

Sampai akhirnya aku sudah nulis lagi, dan Nail baca, dan Nail kayaknya mau menyampaikan sesuatu yang udah lama dia tunda dari tadi, dan mau dia utarakan sekarang, dan itu adalah:

"Sya, kok gaya bahasamu beda sama di cerpenmu biasanya?"

...... hah.

Memangnya gaya bahasa cerpenku kayak gimana. Aku aja nggak tau kalau nulis cerpen biasanya pakai gaya bahasa kayak gimana, dan di sini aku dibilangin kalah gaya bahasaku beda sama biasanya. Itu kejadiannya cepet banget dan ada dua hal yang aku rasain saat itu juga:

Yang satu, rasa seneng. Aku suka akhirnya aku bisa narik kesimpulan kalau genre "horor yang horor dari awal" itu bukan bidang yang aku minati, karena aku lebih suka genre itu horor dengan sendirinya (?) entah karena tokohnya depresi atau punya indera keenam.

Yang kedua, agak kontras sih, rasa sedih (...). Kenapa malah Nail yang bisa nebak gaya bahasaku sebelum aku? Oke, aku dulu pernah ngerasain hal yang sama sih, ada penulis yang cerita-ceritanya aku baca, dia nulis status kalau dia bingung gaya bahasanya dia kalau nulis cerpen gimana, dan aku yang baca statusnya bingung karena itu hal yang nggak perlu dipertanyakan (??).

Pada akhirnya, responsku ke Nail itu berbentuk pengakuan sih, "Soalnya itu bukan genre yang aku bisa sih," dan bukan tanya balik gaya bahasaku memangnya kayak gimana; karena menurutku aku harusnya nemuin itu sendiri. Agak sedih lagi sih aku harus dibeginiin (?) biar ketrigger buat cari tahu XD

Akhirnya aku nemu gaya bahasaku lama-lama, ketika aku maksain diri buat nulis cerpen dan aku nggak sreg dan cerpen yang sudah berlembar-lembar itu langsung kututup tanpa kusave, di situ aku ngerasa nggak membuang apa pun karena toh yang kutulis di situ bukan cerpen yang aku pengenin.

Waktu mata kuliah Ilmu Sastra Umum, aku jadi baru disadarkan kalau cerpen itu nggak bisa dipisahkan sama pengarangnya. Apa pun bedanya cerpen itu sama kehidupan si pengarang (misalnya ada cerpen tentang masa depan Indonesia yang penuh sampah - dalam arti harfiah dan kiasan - kan kita nggak bisa secara gamblang menyimpulkan itu yang diinginkan pengarang, kan?) pasti ada yang mau disampaikan si pengarang dalam cerpen itu. Aku ngerasa klik sih, bagian ini.

Aku nggak bisa menjelaskan gaya bahasaku kayak gimana karena jujur aja aku ngerasanya beda-beda, tapi sebeda apa pun itu, di tengah proses pembuatan cerpenku, aku selalu klik dan pengin ngelanjutin terus sampai tamat, kalau aku ngerasa cerpen yang kubuat itu bisa sebagai perantara apa yang mau aku sampaikan ke dunia. c:

Habis ini bikin cerpen deh.

rant

Setengah Tahu

Rabu, Agustus 23, 2017

Pernah nggak kalian sahabatan sama orang yang rasanya kalian setiap hari selalu bareng, tapi kalian sebenernya nggak tahu apa-apa tentang orang itu? Kalau misalnya belum, ya, coba aja dibayangin kalau kasus itu terjadi ke kalian gimana. Rasa sedih ada, tapi rasa pengin menyalahkan diri sendiri juga ada. Setiap hari kita bareng tapi kok aku nggak tahu apa yang dia suka? Aku nggak tahu kehidupannya dia di rumah gimana? Cita-cita? Kerjaannya cuma main dan seneng-seneng aja.

Nah. Mungkin buat yang sudah pernah ngerasain, nganggap itu mainstream ya.

Tapi gimana kalau subjeknya diganti sama diri kita sendiri? Pernah nggak kalian ngerasa kalau kalian nggak tahu apa-apa tentang diri kalian sendiri? Jelas itu rasanya lebih kompleks, dan saya juga belum nemu (kalau mau ngira-ngira, ya mungkin jumlahnya sedikitlah ya) orang yang memenuhi kriteria itu selain Rasya.

Sekarang tuh bocah lagi ngerasain kayak gitu, dan gara-gara itu dia belum nulis cerpen apa pun selama sebulan lebih dua hari; terakhir kalau saya nggak salah ingat, dia nulis cerpen itu tanggal 21 Agustus. Selama ini dia selalu bersama seseorang (atau sahabat) yang rasa-rasanya selalu bareng sama dia tapi ujung-ujungnya bilang kalau seseorang itu nggak tahu apa-apa tentang dia.

Gimana sih rasanya kalau cuma setengah tahu tentang diri sendiri? Kalau menghadapi itu ke orang lain kan sudah sering ya (dan itu pun nggak semua orang pernah mengalaminya) karena kebanyakan orang selalu beruntung soal sahabat; kayak selalu saja ada pelengkap yang bisa dijadikan wadah curhat gitu, yang itu nggak berlaku buat Rasya ini. Sudah dia yang dijadikan pengalaman nggak dimengerti, sekarang dia juga nggak mengerti seseorang - yang ironisnya, itu dia sendiri.

Susah sih jelasinnya, saya juga di sini cuma nulis aja dan nggak tahu tuh nanti Bleepy mau nerbitin ini atau tetep dibiarin gitu aja di draft. Walaupun sebenernya yang bikin Rasya bingung itu mungkin karena keberadaan saya ya; saya yang ada hanya untuk dijadikan eksistensi kebohongan doang. Apa yang saya inginkan itu sejak awal nggak ada pada saya; kalau mau tahu apa yang saya inginkan, kasih saya waktu buat nyusun daftar apa hal yang kira-kira akan diharapkan orang-orang agar saya inginkan, maka itulah yang saya inginkan.

Sesederhana itu. Karena saya ada untuk memenuhi harapan orang-orang yang dilimpahkan kepada saya; tapi serumit itu juga bagi Rasya, karena lama-lama, semakin ke sini, saya jadi memegang peran dominan untuk melakukan hal yang seharusnya ini yang Rasya inginkan; terus kok, jadi saya?

Sekali saya ada kesempatan tanya, "Kok jadi saya yang melakukan ini? Kan, ini yang Rasya suka." Tapi jawaban yang dia kasih selalu kabur, nggak jelas, muter-muter ... walaupun pada akhirnya terjawab juga sih, kalau Rasya mulai nggak bisa membedakan mana hal yang bener-bener dia inginkan dan mana hal yang diharapkan oleh orang-orang untuk dia inginkan.

Nah. Masalahnya adalah, kalau kayak gini nanti saya yang jadi ribet .... Terus, saya yang jadi disalahkan deh. Kesannya saya ini penjajah, yang datang-datang langsung menguasai semuanya, padahal sebenernya yang punya rumahlah yang mengizinkan saya mengobrak-abrik ruangan semau saya. Kalau saya nggak mikirin sampai sini, dan kalau saya nggak bikin batasan sebelumnya mana tugas saya dan mana tugas yang harus Rasya kerjakan, saya bisa-bisa jadi antagonis lho ini.

Terus apa-apaan ini, menjelang tepat satu bulan Rasya belum bikin cerpen apa-apa lagi, dia sudah sempat berusaha kan untuk mulai mikir keras, untuk mulai cari ide. Dan sampai hari ini (saya nggak tahu Rasya nyimpennya di mana, jadi saya buka Ms. Word terus buka file-nya dari Recent Documents) dia baru bikin 206 kata, maksudnya apa? Baru setengah halaman? Dan minggu ini dia belum baca buku apa pun, di tasnya ada buku wajib buat salah satu mata kuliahnya dia, dan baru dibaca sampai halaman delapan, maksudnya apa?

Sengaja ditinggalin gitu aja biar saya yang ngelanjutin? Saya bisa aja sih nulis, terus nyoba baca tuh bukunya, tapi kalau saya yang ngelakuin, terus Rasya dikemanain? Mana motonya dia (walaupun udah ganti sih kayaknya) yang, "Hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup"? Dari kemarin sebenernya saya pengin nulis lagi, kalau lihat arsip cerpennya Rasya yang belum nambah sejak 21 Agustus tuh rasanya sedih sendiri hiks. Tapi ya mau gimana, kalau saya nambahin, saya malah melakukan apa yang harusnya Rasya penginin.

Terus sekarang gimana?

Rasya sekarang lagi setengah tahu tentang dirinya sendiri. Tugasnya adalah melakukan apa yang dia inginkan, dan tugas saya adalah melakukan apa yang orang lain ingin dia lakukan. Sebenarnya itu simpel, bagi saya itu juga keputusan yang cukup adil karena seenggaknya keberadaan saya punya tugas yang jelas, tapi lama-lama batas itu makin kabur, kabur, kabur ... sampai lalu Rasya mulai nggak tahu mana yang harus dia lakukan dan mana yang harusnya dia lempar pada saya untuk saya lakukan.

Kalau dia ragu-ragu kayak gini, mending saya yang pergi aja sebelum saya mulai ngelakuin apa hal yang harusnya dia lakuin, yang awalnya cuma bermodal pengin ngebantu tapi justru keterusan, dan nantinya malah dia yang pergi. Saya lebih milih gitu aja; saya nggak mau Rasya mengalami kejadian sama dengan apa yang menimpa seseorang yang sekarang sudah digantikan oleh orang lain. Hampir sama kasusnya seperti maling masuk ke dalam rumah dan mengusir si empunya; sekarang sosok awal seseorang itu sudah seluruhnya pergi, dan yang menempati raganya adalah jiwa sang pendatang yang harusnya datang cuma buat membantu saja.

Makanya saya pasang judul ini, 'Setengah Tahu'. Mungkin sekarang Rasya nganggap saya jahat, apa-apaan saya, sudah datang ada kok kesannya tapi nggak bantu apa-apa. Dan sekarang Rasya lagi dalam fase nggak tahu apa yang dia sendiri penginin (kayaknya hampir berapa kali sendiri dalam sehari dia gampang mempertanyakan ini-itu; apalagi kalimat, "Harusnya aku gimana?") bahkan lihat aja lifemap proyeksi lima sampai dua puluh tahun mendatang bikinannya dia. Menyedihkan banget sumpah.

Selama Rasya lagi dalam fase kayak gitu, sayanya juga lagi latihan buat nolak. Saya yang sekarang justru lebih tahu apa yang harusnya Rasya lakukan, dan apa yang harusnya saya lakukan. Saya nggak mau nulis, saya nggak mau baca, saya nggak mau ngajak ngobrol orang baru, karena itu tugasnya Rasya, bukan tugasnya saya.

Bahkan mungkin sebenarnya Rasya sendiri juga sudah tahu ini. Atau entah deh.
Soalnya iya, bagi saya perbedaannya masih sejelas itu.

event

PPSMB UGM 2017!

Sabtu, Agustus 12, 2017

Aku spikles sama acara PPSMB seminggu ini. Selama ada di sana tuh, rasanya asik, seru, keren, semua energi positif terpancar di sana pokoknya. :') Apalagi gugusku, Taroeno Djojoningrat, ada di ruang Farmasi, yang kata Mas Alun (cofas gugusku selain Mbak Fitria) termasuk salah satu penyedia konsumsi terenak =)) Dan kenyataannya bener, soalnya selama dua hari diculik panitia ospek fakultas di FIB, yang kukangenin banget tuh makanannya. XD

Ini makanan hari terakhir:

Terus ... aku pengin cerita dari awal sampai akhir, tapi terutama yang paling kukenang aja ya. XD Yang pertama, buat upacara pembukaannya sudah jelas: Jupiter Aerobatic Team! Diawali sama atraksi terjun payung ... indah bangetlah. :") Atraksi pesawatnya keren banget, kapan lagi upacara pembukaan disambut pakai pesawat. 8'D


bisa dilihat di youtube, keren!!! XD


Terus pas kita masuk gugus, kita dalam empat hari bersama bener-bener kayak keluarga. XD Apa-apa kita jadiin guyonan, entah jargon rumah sakit jiwa, olahraga judo, atau tepuk satu. :") Pas menjelang perpisahan bener-bener ada yang sampai nangis, aku sendiri sedih. Penginnya kebersamaan kita nggak pisah, lol aku masih ketawa pas nginget ekspresi orang-orang yang lihat, kita nggak ada tedeng aling-aling langsung teriak aja, "Rumah sakit jiwa! Rumah sakit jiwa!" =)))

pas ngerayain ultah. XD
Yang koplak tuh pas masuk sesi tentang alasan kita bangga menjadi mahasiswa UGM. Apa yang bikin kita bangga masuk UGM? Apa karena salah satu universitas terbaik di Indonesia? Karena dibangun murni dari keinginan para pejuang untuk mencerdaskan generasi bangsa? Pembicara kita, Bu Ida, sudah memancing sedemikian rupa, dan dari kita justru ngasih jawaban polos, "Karena kita bisa masuk UGM." (......)

pertama kali kita ketemu. masih formal gini ya gayanya. :))
Dan kalau dipikir-pikir, itu alasan realistis lol, kita bangga jadi mahasiswa UGM ya karena kita bisa masuk UGM. Kalau masuk universitas yang lain, ya bangga jadi mahasiswa universitas yang kita masukin itu dong. XD Jawaban jenius tapi berdasarkan fakta. :"))

bandingin sama hari kedua. :))
Ada juga saat-saat kita terharu, ngeng. Misalnya pas Mbak Fitria nyetelin video sejarah UGM, dan di situ dikasih fakta gimana berdirinya UGM, aku terharu. Bener-bener memunculkan perasaan baru, yang seperti bilang; ternyata begini, ya, rasanya bangga sama almamater. :") /ras

sama cofas, mbak fitria dan mas alun. :3
Lalu Bu Ida ngasih tanya, "Siapa di sini yang pernah gagal?" dan semuanya angkat tangan. Lalu kita kayak disadarkan, kalau kita bisa ada di sini tuh karena kegagalan kita. Akhirnya ada yang mulai berani cerita. Ada yang kegagalannya SBMPTN tahun lalu ... yang bikin aku langsung teringat sama temen-temenku yang belum rezekinya tahun ini untuk kuliah, bismillah semoga tahun depan memang momennya kalian. :")


Terus Bu Ida akhirnya menceritakan tentang kegagalan beliau. Yang bikin aku nangis, dan seisi ruangan spikles. Bu Ida ini dosen Farmasi mulai tahun ini, dan pengalaman sedih yang beliau ceritakan ke kita, gimana beliau sampai sakit selama dua minggu bolak-balik ke UGD bikin aku ngerasa kalau kegagalan yang selama ini kukeluhkan tuh nggak ada apa-apanya, plis. :")) Aku nggak sampai sakit dua minggu. :")))

Beliau cerita dari awal sampai akhir, ditutup dengan akhir yang indah karena akhirnya, setelah kesabaran yang aku nggak yakin apabila itu menimpaku bisa kuatasi kayak gitu apa enggak, beliau dapat hikmahnya. :") Alhamdulillah.

the boys! x3
Lalu pas di hari ketiga, kita ngasih kejutan untuk dua temen kita yang ulang tahun bulan ini! Ada kue dan balon, waktu itu aku ngerasa kita makin lama makin akrab. Dan pas Mbak Fitria bilang kalau dia dan Mas Alun punya hadiah untuk kita semua di hari terakhir, saat itu juga malamnya kita bahas di multichat buat bikin hadiah 'balasan' besoknya. Alhasil, hari penutupan kita malah berasa kayak tukeran kado, habis Mas Alun dan Mbak Fitria ngasih hadiah, habis itu kita. XD

ini hadiah dari mbak fitria sama mas alun. XDD
Saking kompaknya, pas Bu Ida pamit, kita bisa-bisanya kayak suporteran, "We love Bu Ida, we do, we love Bu Ida, we do, we love Bu Idaaaa, we dooo, Buu Ida we love youuuuu!" bener-bener sesuailah sama apa yang dibilangin panitia di ruangan sebelah tentang gugus Taroeno Dua; anaknya receh semua. XD

Terus, jelas closing ceremony-nya juga nggak terlupakan. Tahun ini formasinya yaitu bikin ... lambang UGM! Seneng banget. XD Bersyukur angkatanku yang dapat kesempatan menjadi bagian dari pembentukan lambang UGM. :")

keren banget. :")))
 Lalu kayak tahun-tahun biasanya, ada yang iseng nulis-nulis di kertas HVS. Untung panitianya nyuruh kita bawa dua puluh lembar HVS, jadinya masih ada sisa di tas. XD Alhasil banyak banget yang kreatif nulis-nulis nama, ada yang serius, ada yang koplak ... tapi banyakan yang koplak. :") Nih kukasih daftar yang aku masih inget:
  • Raisa, kutunggu jandamu! (Plis XD)
  • PANAS BOSS! (Ini malah ngasih pesan buat kita-kita. :'D)
  • BUKA JASA BIKIN CAPTION 10k (.........)
  • Akhirnya kubuat mantan menyesal. (TOLONG XDD)
  • Cepet dong!!! (Ini ngomongin salah satu pembicara yang lagi ngasih orasi di panggung, woooo=)) Tidak baik XD)
  • NGGAK USAH BUAT TULISAN (Terus ini sendiri apa kalau bukan tulisan. :"D)
Kalau yang mainstream kayak menunggu adek kelas masuk UGM, salam buat emak, mama, ibu (dan panggilan buat ibu lainnya), bapak, kakek, nenek, tante, om, terus kalau UGM itu gudang mantu (........) itu bertebaran sih di mana-mana. Aku masih ketawa setengah terharu kalau baca pesan, "Mak, anakmu UGM!" tapi aku beneran ngakak sama yang ini:


TOLONG. Aku ngakak banget waktu itu. XD Kalau buat orang tua kan masih wajar, lah kalau ini membicarakan masa depan. Berasa kayak cerita untuk anak. XD Kreatif asli. XD

Terus, kita dapat majalah Balairung gratis pas penutupan. Dan di halaman pertamanya, ada kalimat sambutan;

Selamat datang mahasiswa biasa
di kampus yang biasa-biasa saja.

Yang entah kenapa aku justru ngerasa kalau kalimat itu ... sangat UGM sekali. :')) Pokoknya PPSMB UGM ini bikin aku nggak bisa berkata-kata lagi. :") Indah, segala macam perasaan yang ada tuh pada akhirnya balik ke bersyukur lagi; alhamdulillah bisa masuk UGM. Seneng banget. :") Makasihhhh ya Allah. :")

Udah, yaaaa! XD

rasya's cleaning of the storage

Telegram: chat with yourself

Jumat, Agustus 11, 2017

Satu-satunya hal yang paling aku suka di Telegram itu karena ada fitur pesan personal sama diri kita sendiri ... alasan yang sama kenapa aku mempertahankan Messenger. Dan LINE lumayan, setidaknya kita bisa bikin grup yang anggotanya kita sendiri - walaupun agak ribet. Aku biasanya kalau untuk urusan yang cepet (?) kayak kalimat sekilas yang terpintas atau celetuk, aku nulisnya di Telegram atau Messenger - tergantung mana yang paling cepet aku klik duluan.

Aku lagi baca-baca ulang pesan-pesan yang aku kirim di Telegram dan aku pernah nulis hal yang sangat ... gimana, ya, aku mau bilang kalau isi pesannya alay, tapi kok yang pengirimnya aku sendiri, kan ironis. :")

.

.

aku takut. aku takut kalau apa yang aku percaya ternyata bumerang untukku. bagai pedang bermata dua; aku memilih percaya maka aku buta pada sisi satunya.

aku takut berita apa pun yang kubaca, asalkan merendahkan apa yang aku percaya, maka langsung membuatku naik darah. aku takut apabila yang membuatku marah dan membenci suatu kaum tanpa ba-bi-bu itu ternyata tidak benar; hanya berita yang dilebih-lebihkan untuk memecah-belah persatuan.

di sisi lain aku tidak mau semudah itu merasa benci atas informasi yang tak tahu sumbernya dari mana, dan di sisi lain aku ditinggalkan oleh orang-orang yang berpikir aku satu pandang dengan mereka hanya karena aku tidak bereaksi sama.

ketidaktahuan seperti menyusuri jalan yang gelap, tapi kini orang-orang datang dari sisi yang berbeda, membawa lentera dengan penerangan masing-masing yang sama menyilaukannya; sekarang membuat jalan menjadi kelewat terang.

gelap gulita, terlalu gemilang ... dan apa yang membuat keduanya tak berbeda?
sama-sama tak terlihat ujungnya.

seberapa benar? seberapa salah?

.

.

.

Oke, udah. (...)

Nggak cuma itu sih, ada yang makian, puisi, cerpen juga ada, bahkan yang creepy (???) juga ada. Tapi nanti kebanyakan. Karena ini intinya aku ngasih yang aku punya di blog untuk arsip, makanya aku pakai label yang dari dulu pengin kupakai ini, ya. XD

Cari Pelarian

Jumat, Agustus 11, 2017

"Ras, aku baca blog-mu, lho."

Aku ... paling ngeri sama kalimat ini, serius. XD

Setiap kali ada orang yang ngomong itu ke aku (kayak banyak yang bilang aja, Sya), waktu bagiku rasanya kayak berhenti, lalu aku langsung mikir keras apakah aku pernah ngungkit tentang orang itu di blog. Aku jarang ngata-ngatai orang, sih, di blogku - secara ini blogku ya, jadi yang aku omongin ya tentang apa yang aku rasakan orz Dan kalau pun ada aku nggak pernah nyebut nama ... tapi sekalipun kenyataannya nggak ada, aku rasanya kayak kehantui sama kalimat itu.

Ada rasa takut kalau lama-lama aku ngeposting di blog dengan pikiran; kira-kira gimana ya yang dipikirkan orang-orang yang baca blogku tentang aku? Padahal blog ini kubuat cuma untuk aku sendiri, dan aku bener-bener nyaman di sini. Sudah beberapa kali sih, aku pindah-pindah blog, nulis di mana pun, cobain blog.com, wordpress, tumblr, blogger lagi juga pernah. Tapi ujung-ujungnya aku balik lagi ke sini.

Saking nyamannya sama blog ini, rasanya kayak aku sendiri yang selalu meningkatkan jumlah statistik pengunjungnya. Kalau aku ke warnet, atau pinjem hape temen, atau lagi gabut, aku selalu balik ke blogku; entah buat baca ulang, atau sekadar menuh-menuhin kolom draft yang saking banyaknya udah kayak daftar postingan blog juga. Pernah kepikiran buat masang seting ini ke privat, tapi aku nanti nggak bisa seenaknya buka blog-ku kalau belum log in. orz

Terus ... akhir-akhir ini aku selalu membiarkan postingan blogku teronggok gitu aja di draft hanya karena alasan yang sepele banget; aku kepikiran apa yang bakal orang pikirin. Sebenernya isi postingannya biasa-biasa aja, tapi pikiran kayak gitu tuh menghambat rasanya ... dan kayaknya itu alasan aku bikin blog-blog buat pelarian sebelumnya.

Aku selalu cari suasana baru buat nulis semuanya di situ, terus sampai aku ngerasa pikiran takut sama kemungkinan orang baca blogku itu berkurang, barulah aku balik lagi ke blogku. Kalau memang itu solusi yang selama ini aku temuin, dan menurutku ini tepat - seenggaknya kan aku bakal balik ke blogku lagi - jadi mungkin aku harus ngelewatin fase ini dulu. XD

.

.

.

Bleepy marah sama aku :")

ajang pencarian bakat

AGT 2017: Chase Goehring

Selasa, Agustus 01, 2017

Aku lupa di mana, tapi aku pernah baca kalimat kayak gini: kalau kamu benci orang sombong, itu artinya kamu benci manusia. Wahaha:) Kalimat itu bisa bener bisa salah, tapi seenggaknya cocok dipakai untuk seseorang yang bisa tanpa sadar tahu-tahu bersikap naif. Bukan untuk pedoman hidup sih, semacam penyadaran aja. Kita semua boleh punya rencana, punya rancangan ini-itu, tapi perlu lihat situasi dan kondisi juga. Pokoknya, seharian aku lagi mikirin soal kalimat itu, dan terus aku buka YouTube karena siapa tahu America's Got Talent bisa ngehibur ... karena sekarang masih jalan kan, dan aku pengin ngikutin dari babak audisi sampai nanti judge cuts terus live show nanti. (Hafal.)

Entah kenapa kalau ngikutin ajang pencarian bakat, aku gampang jatuh cinta sama penyanyi yang bawain lagunya dia sendiri. Lagunya Glee yang aku suka judulnya Loser Like Me dan itu lagu buatannya mereka yang mereka nyanyiin pas lomba. Terus kapan gitu aku suka sama BAM dari Britain's Got Talent yang bawain versi lain dari Hopeful - jadi mereka ubah liriknya.

Nah, sekarang, sesuai judul blogku. Aku langsung suka sama titel YouTube yang nangkring di halaman depan (?) yang terpampang, America's Got Talent 2017 Chase Goehring Singer Songwriter is The Next Ed Sheeran. Akhirnya ada juga penulis lagu yang nampang di AGT, jadiii aku klik deh. Kalian bisa buka di sini, tapi aku bukan bahas soal ini jadi yuk lanjut aja.

Singkatnya, Chase ini baguuus banget penampilannya. Aku lalu nge-stalk dan dengerin lagu-lagunya dia yang lain. Lagu yang dia nyanyiin pas babak audisi itu judulnya Hurt dan itu bener-bener lagu yang sungguh dia sekali; ada rap sama nada tingginya, makanya aku suka sama peserta yang bawain lagu sendiri itu karena seolah lagu itu hanya bisa dia aja yang nyanyiin. :")

Awalnya aku dengerin lagunya dia yang What is Love, terus akhirnya sampai juga di lagu yang bikin aku ... spikles. Judulnya A Capella. Durasinya lima menit sendiri, tapi liriknya bener-bener ... kena. Ini lagu yang dia pakai di babak judge cuts dan membuat dia dapet Golden Buzzer yey! Kalau untukku yang lagi mempertanyakan kalimat yang kusebutin di atas, ini lagunya jleb maksimal ....

wha udah 400k :"))
Ada banyak lirik yang berkali-kali nyindir, tapi intinya di situ adalah dia nyanyi untuk dirinya sendiri. Di sini Chase bener-bener blak-blakan, dia seolah-olah mengatai penyanyi-penyanyi terkenal yang sesumbar bilang kalau mereka hidup untuk musik, tapi nyatanya yang diomongin juga duit melulu. Ada kalimat yang artinya, "Sepertinya itulah yang akan terjadi kalau kamu sudah di puncak; tidak pernah puas dengan apa yang sudah kamu dapat." Nyes. :')

Jujur, aku sering banget meragukan diriku sendiri yang pengin jadi penulis. Bikin novel aja belum, cuma nulis di Wattpad sama Fanfiction terus, ini penulis macam apa .... Tapi gara-gara aku dengerin lagu ini, aku jadi termotivasi gitu deh. Kalimat-kalimatnya bener-bener, gimana ya, kedengerannya naif sih. XD

Maybe a year or two, maybe a year or three ....
It doesn't phase me, honestly.
Even if I don't make it by then,
I'll still be doing shows so I make it in the end.

Lirik yang ini lho. Lirik yang ini!!1! :"D

Seolah-olah ada suara yang pernah mati, bangkit hanya untuk meneriakiku, "Penulis itu orang yang menulis, Sya, sesederhana itu! Kamu mau memperkenalkan diri ke dunia sebagai penulis itu nggak butuh nunjukin buku sebagai persyaratannya. Cukup kasih bukti nyata kalau kamu itu menulis. Udah." Nulis aja. Perihal nanti bisa bikin novel atau enggak itu nggak perlu dipikirin masak-masak. Yang penting nulis terus, bikin kerangka novel terus, jangan berhenti.

Ada lagi yang aku suka:

Now they coming to me asking, if I wanna be the next big thing.
I'm the next best thing, buddy.

You better get your facts straight:
I don't need a record label to show them my talent great,
Cause if the people like it then the people buy it,
why would I wanna hire another writer just to take it higher?
Foolish.

Like the gold that you place in my hands; that's fools gold,
and I'm not fooled by this fame game ... this twitter game ... i
t's so lame.
Cause I'm verified on the inside,
I don't need a blue check to be satisfied.


Sangat ... frontal.

Aku jleb banget bagian twitternya HAHAHA ketahuan deh pernah punya keinginan dapet centang biru di akun twitter. (...) Lirik lagunya sungguh menyinggung tanpa setengah-setengah. Aku jadi inget pernah baca jawaban di Quora, kalau cara ampuh menyadarkan orang-orang yang hidup untuk uang itu seharusnya pas nyetak dikasih tulisan di bawah nominalnya, this is just a piece of paper. =))

Kurang-lebih kayak gitu sih. Aku suka liriknya Chase karena ... menggugah, menurutku. Bisa bumerang karena kalau kita lagi butuh motivasi, dengerin lagu ini malah mematahkan api membara dan bikin kita jadi males-malesan :") Tapi poinnya Chase di sini bukan untuk itu, lagu ini pengin menyadarkan kita kalau terlalu ambisius mengejar harta dan ketenaran "is so lame". :))

cerpen

Song Fiction: Shattered

Minggu, Juli 30, 2017

And I've lost who I am, and I can't understand.
Why my heart was so broken rejecting your love?


THE DEUTERAGONIST: ARVYAN CAHYO NUGROHO

"Awas, Cahyo!"

DUAK!

Tepat setelah aku mendengar suara peringatan itu, kepalaku terbentur keras. Sakit sekali rasanya, kepala bertemu kepala, aku membuka mata dan melihat lawan tabrakku; Fariz, satu angkatan denganku (untung, karena repot kalau aku menabrak seorang senior), aku kenal dia namun sayangnya relasi yang terjalin di antara kami tidak begitu baik. Dia bersama dengan rombongannya yang membuntuti seperti anak ayam, memandangiku tak senang.

"Nggak sengaja," kataku datar; seperti mesin otomatis.

"Tapi tetap sakit, rasanya kayak aku hilang ingatan," dia mengusap kepalanya, "sayang aku habis ini ada jadwal tanding, jadi selesaikan saja sekarang dengan kita benturan lagi."

Aku tahu ke mana dia akan membawa percakapan ini, dan sekalipun aku sudah berusaha menahannya mati-matian, tetap saja aku langsung naik pitam. Seorang di sampingku yang refleks berteriak memperingatkan tadi, Ahmad namanya, juga menyadarinya, karena justru dia yang menyahut.

"Maksudnya apa?" Ahmad bertanya dengan nada tenang terkontrol.

"Kok tanya balik? Kalau ada orang tabrakan yang bikin dia hilang ingatan, cara mengatasinya gampang; tinggal disuruh tabrakan lagi saja biar ingatannya balik," Fariz menjawab enteng, tapi setiap penggalan katanya malah semakin meningkatkan emosiku, "bukan malah diladeni mengeja alfabet dan bantu mengerjakan tambah-tambahan."

Tak ada lagi yang perlu kukatakan, aku maju selangkah dan sedetik kemudian sudah mendaratkan bogem mentah ke pelipis kanannya - membuat Fariz bisa terjatuh kalau rekan-rekannya tidak buru-buru menahannya. Aku mencoba melanjutkan ke serangan kedua tetapi Ahmad mencegahku.

Fariz justru mengulum senyum menerima pukulan barusan. Kemenangan di pihaknya karena dialah yang berhasil menyulut emosiku. Karena menang dan kalah dalam perkelahian memang kadang dapat ditentukan secepat itu - bukan siapa yang terakhir berdiri yang menang, tetapi siapa yang melepas tembakan pertamalah yang kalah.

"Begini-begini," dia menunjuk wajahnya sendiri, tepat ke arah luka memar yang baru terbentuk, "aku masih baik, nggak akan membalas. Sebentar lagi aku main, dan hei, bintang sekolah pantang dilukai."

Aku bergeming, membiarkan ia dan rombongannya berjalan melewatiku. Memang seharusnya aku nggak boleh melawannya, toh suka-suka dia mengatakan apa pun. Aku masih ingat apa yang Ahmad sempat bilang padaku, sekarang sudah berbulan-bulan setelah kejadian itu, jadi aku seharusnya lebih stabil dan bisa mengatasi tanpa emosi. Aku hanya tidak menyangka akan sesulit ini.

"Omong-omong, Cahyo," panggilan Ahmad membuatku menoleh padanya, tapi ia tidak memandangku. Ia memandang lurus menatap suatu ruang kelas, aku tak tahu kelas berapa tepatnya namun hanya ruang kelas milik anak kelas satu saja yang belum istirahat, "Dino melihatmu, tuh."

Aku mencoba membaca ke arah mana mata Ahmad tertuju, dan benar saja - di salah satu jendela di ruang kelas itu, aku melihat Dino - rupanya itu ruang kelasnya. Dia buru-buru mengembalikan pandangan ke arah papan tulis ketika sadar aku memergokinya.

Kuhela napas. Sudah pasti dia melihat kejadian barusan.

Without love gone wrong, lifeless words carry on;
But I know - all I know - is that the end's beginning.

THE PROTAGONIST: ADINOVA INDRA PERMANA

Aku membunyikan bel dan menunggu seseorang membukakan pintu. Teringat perkataan tuan rumah terakhir kali aku ke sini; anggap saja rumah sendiri. Seluruh penghuni rumah ini sudah repot-repot membuatkan kunci cadangan untuk kubawa ke mana-mana agar aku bisa langsung masuk begitu saja, tapi tak pernah sekalipun aku memakainya. Kunci itu berakhir menjadi hiasan di kunci motorku.

Kudengar suara langkah di garasi sebelum pintu terbuka; dengan menebak cara jalannya yang menyeret itu membuatku langsung tahu siapa sosok di baliknya. Tebakanku benar, pintu terbuka dan senior satu tahun di atasku menatapku dengan cara itu - misterius dan tak tertebak.

Tekanan yang harus ia terima beberapa minggu terakhir ini membuat raut wajah Cahyo menjadi beberapa tahun lebih tua dari yang seharusnya. Aku menganggukan kepala canggung, belum menggerakkan satu pun anggota tubuhku sampai ia mempersilakanku. Aku mengikutinya memasuki rumah, melewati garasi, ruang tamu, meja makan, hingga ke halaman belakang.

"Lagi apa?" aku bertanya seperti itu karena melihat kertas HVS dan seperangkat krayon di tangannya.

"Belum melakukan apa-apa, aku baru pulang sekolah juga," jawabnya dengan nada seperti terbebani yang membuatku merasa tidak enak - tapi aku tak mau mengutarakannya kali ini karena Cahyo selalu berdalih bahwa dirinyalah yang seharusnya merasa begitu, "tapi tadi aku sempat bertemu Ibu, katanya Dita minta disiapkan alat-alat gambar, jadi aku melakukannya."

Aku mengangguk dan kemudian melihat Dita sedang duduk bersila di halaman belakang, tertawa sendiri, bermain dengan tanah; membuat gunung-gunungan atau sekadar membentuk kepalan dan melemparkannya entah ke mana - kotor sekali, kukunya jadi hitam-hitam. Kulirik Cahyo yang sempat menguasai diri lebih dulu sebelum mulai memanggilnya.

"Dita, kakak sudah ada krayonnya, nih!" sekejap saja raut wajahnya berubah, menjadi sosok kakak laki-laki yang penyayang dan penuh pengertian. Aku seperti tersindir karena tak bisa melakukan hal yang sama.

Dita mendongak dan langsung sumringah, ia berdiri dan berlari menuju kami. "Gambar! Gambar!" katanya sambil bertepuk tangan. Suaranya kekanakan - sangat berbeda dari apa yang selalu terngiang di kepalaku, membuatku selalu merasa perih dan ingin rasanya memalingkan muka. Cahyo jelas menyadari bahwa aku berusaha keras menahan diri, tapi ia berlagak tak peduli.

"Tolong ambilkan meja lipat yang kusandarkan di tembok itu, Din," Cahyo memberiku perintah yang langsung kuturuti, aku mengambil meja lipat yang bersandar di tembok dekat pintu ke halaman yang baru saja kami masuki tadi, membawanya kembali ke tempat mereka berdua duduk, dan membentangkannya. Cahyo meletakkan kertas dan krayon di atas meja yang kubuka. "Mau gambar apa?"

Dita mengambil satu warna krayon - merah, lalu begitu mulai menggambar, ia menatap kami berdua, lalu menyeringai malu-malu. "Nggak boleh dilihat," katanya merajuk.

Aku tersenyum melihat ekspresinya, terserang kilas balik hebat pada saat-saat di mana Dita kerap kali memintaku membocorkan apa yang keluar saat ulangan. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah karena itu akan membuat nilaiku yang sudah kujamin jelek bakal lebih rendah darinya, tapi toh pada akhirnya kuberi tahu juga.

"Oke, kami nggak lihat, deh," aku berdiri. "Nanti Dita yang panggil kalau sudah selesai, ya."

Who I am from the start? Take me home, to my heart.
Let me go and I will run; I will not be silent.

WOMEN IN DISTRESS: YUSUF AYUDITA NUGRAHANI

Namanya Dita. Adik perempuan satu-satunya Cahyo, dan dia seharusnya satu angkatan denganku sekarang, sama-sama kelas sepuluh. Kecelakaan membuatnya hilang ingatan total, dan di antara jenis-jenis hilang ingatan yang ada, Dita melupakan semua memori yang membuatnya harus mulai belajar membaca dan berhitung dari awal.

Aku dan Cahyo hanya duduk di ruang tamu beberapa menit, tanpa mengobrol, sibuk dengan ponsel masing-masing, sampai kemudian terdengar suara mesin mobil dari kejauhan. Ibunya pulang, Cahyo menyambut untuk menawarkan supaya ia saja yang mengambil alih kemudi, dan aku bantu membukakan pintu garasi. Ibunya turun membawakan barang belanjaan.

"Eh, ada Dino," beliau tersenyum begitu melihatku. Aku menganggukan kepala, tanganku tergerak untuk membawakan plastik besar di tangannya, namun beliau menolak halus. "Dita lagi gambar, ya?"

"Iya, Tante, nggak boleh dilihat katanya," aku menjawab, mengikuti beliau masuk rumah sementara Cahyo masih memarkirkan mobil di garasi. Ibunya tertawa mendengarku - tapi aku tahu bahwa ada sedikit kepahitan di sana. Dita menjelma menjadi anak kecil dalam satu kedipan mata, dan aku tak bisa membayangkan betapa dalamnya luka yang dirasakan ibunya karena seolah harus mengulang hari-hari yang pernah terjadi.

Beliau menaruh barang belanjaan di meja makan. "Dino langsung dari sekolah, ya?" beliau menebak, dan tebakan itu jelas benar karena aku masih mengenakan seragam. "Nggak ada kegiatan ekskul di sekolah?"

"Saya nggak ikut apa-apa," jawabku pelan, berharap Cahyo belum selesai memarkir mobil dan tidak mendengarnya - karena jelas dia tahu hari ini seharusnya ada ekstrakurikuler peleton inti di mana aku sudah resmi keluar dari keanggotaan beberapa hari setelah Dita divonis hilang ingatan.

"Ada tonti harusnya," terdengar suara Cahyo dari belakang yang membuatku merah padam - jelas tak mungkin makan waktu lama baginya memarkir mobil. "Mau pakai kaosku?"

"Nggak usah," aku menolak, tapi Cahyo sudah berjalan ke kamarnya.

"Nggak apa-apa, sana disusul Cahyonya," begitu ibunya berkata, membuatku mengarahkan pandangan lagi pada beliau yang mulai mengeluarkan barang belanjaan satu per satu, "biar setelah ini Dita sama Ibu saja."

Aku tak tahu harus melakukan apa selain menurut, sengaja melambat-lambatkan diri saat berbalik badan dan mulai mengikuti jejak Cahyo ke kamarnya. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara ibunya memanggilku, "Dino," membuatku berbalik lagi, melihat beliau memandangku keibuan, "makasih ya selalu menyempatkan ke sini."

Ah. Kehangatan beliau membekukanku. Aku hanya bisa tersenyum pahit, senyum yang langsung memudar begitu aku berbalik badan, yang tersisa hanya rudungan rasa tak enak. Ada yang salah ....

All this time spent in vain, wasted years, wasted gain.
All is lost. Hope remains.
And this war's not over ....

MAKES SENSE OF CONFLICT

"Nggak usah ke sini lagi."

Aku langsung berkata begitu melihat Dino di ambang pintu. Aku memandangnya yang membatu, dan nostalgia menyerangku. Aku tak pernah membayangkan akan berada dalam kejadian ini dengan Dino; junior yang sudah kuwanti-wanti sejak awal karena mendekati Dita dari hari pertama masuk sekolah.

Kupikir karena Dino satu ekstrakurikuler denganku - peleton inti - dan tabiatnya juga tidak buruk-buruk amat, obrolan kami juga sedikit-banyak ada kesinambungannya karena sama-sama suka membaca buku tentang perang dan sejarah, jadi kudiamkan saja saat Dita senang sekali menceritakannya padaku di hari mereka berdua jadian. Kalau mereka berdua memang suka, walaupun aku kesal diam-diam karena berasa dilangkahin, tapi biarinlah.

Kabar kecelakaan Dita kuketahui dari pesan di grup LINE event yang aku dan Dita sama-sama jadi panitianya. Itu pun bukan dari ponselku sendiri gara-gara bateraiku habis. Karena tak mau terlalu memperlihatkan kalau kami saudara (walaupun satu sekolah sudah tahu sih), Dita kubiarkan pulang duluan begitu event-nya selesai, sementara aku masih berkumpul bersama teman-teman untuk mengobrol apa saja.

Aku masih ingat, benar-benar ingat, aku masih mengajak bicara anggota Divisi Perlengkapan di depan panggung, untuk merekapitulasi jumlah tepatnya meja dan kursi yang harus dikembalikan ke tiap-tiap kelas, ketika dari jauh kulihat Ahmad berlari, cepat sekali. Napasnya sudah habis padahal langkahnya baru mencapai deretan kursi paling belakang, jadi jarak di antara kami berdua kurang-lebih sepanjang satu lapangan, makanya Ahmad berasa perlu berteriak keras-keras agar aku mendengar, "Cah, Dita kecelakaan!"

Sepertinya berita Dita kecelakaan juga diberi tahu di grup LINE angkatannya dia, karena begitu aku sampai di rumah sakit bersamaan dengan Dino yang memarkirkan motornya. Suasananya malam dan dingin tapi dia hanya memakai kaus oblong dan sandal jepit, helmnya pun miring. Wajahnya pucat seperti orang kena tipus, dan dia tidak melihatku yang berjarak tiga-empat motor di sampingnya. Dia memarkirkan motornya buru-buru dan berlari masuk ke rumah sakit.

Ada kerusakan pada otak yang menyebabkan Dita tidak hanya kehilangan ingatan; tapi dia juga kehilangan dirinya sendiri. Dokter menyebutnya demensia, bukan amnesia, aku tak begitu tahu apa artinya tapi Ibu hanya bilang kalau intinya hampir sama. Hanya saja demensia diambil dari bahasa Latin yang artinya gila, dan orang sebodoh apa pun tahu apa maksudnya. Intinya Dita jadi gila. Atau dia membuat semua orang di sekelilingnya jadi gila - setidaknya berlaku untukku

Tingkah Dita jadi seperti anak kecil, aku masih ingat betapa menyebalkannya Dita waktu dia merengek minta permen dan hobinya main pasaran setiap saat apabila aku ingin bersama teman-teman sekampungku yang laki-laki main sepeda atau pergi ke rumah kosong. Rasanya kayak mengulang waktu, tapi seratus kali lipat lebih menyakitkan karena aku tidak bisa berhenti melihat Dita seperti Dita yang sebenarnya di saat dia menangis keras minta permen padaku seperti saat masih kecil dulu.

Jelas aku harus belajar mengontrol kesabaran diri sendiri, tapi lama-kelamaan semakin melihat kondisi Dita, mau tak mau ingatanku kembali pada Dino yang seperti orang kesurupan saat memarkirkan motornya di rumah sakit dan melesat masuk tanpa menyadari ada aku, saat hari di mana Dita kecelakaan itu. Aku selalu bangun di pagi hari dan bertaruh apakah Dino masih kuat untuk berkunjung ke rumah, dan nyatanya masih, sekalipun lebih banyak diam dan hanya memandangiku yang melakukan ini dan itu.

Melihat dia terus berkunjung rasanya menyakitkan, apalagi wajahnya seperti bertambah tua setahun setiap harinya. Memang mereka pacaran, tapi mereka hanya pacaran, dan Dino masih kelas sepuluh, dia tidak perlu ikut menanggung beban seberat ini. Memangnya kalau dilanjutkan, mau bagaimana? Dita tidak akan bisa sembuh.

There's a light, there's the sun ... taking all. Shattered ones.
 To the place we belong,
and his love will conquer all.

wall.alphacoders.com
DODECAHEDRON ENDING

Dino memandangku. Diam. Aku tahu dia dengar, dan dia cukup bisa menguasai diri untuk tidak bereaksi spontan memintaku mengulanginya lagi. Lebih-lebih, dia bahkan tidak membantah.

"Nggak usah bahas itu," ujarnya pelan.

"Aku beneran," aku jadi makin bersikeras, menekankan kata-kata yang entah akan kusesali atau tidak, karena aku tahu Dino; dia takkan membantah perintahku, aku yang lebih punya kuasa di sini, dan apabila ini berjalan sesuai apa yang kurancang maka aku akan benar-benar sendiri. "Kamu suka Dita itu nanti ketumpuk dengan kamu kasihan sama dia."

"Nggak usah bahas itu."

"Dita bakal selamanya kayak gitu. Kamu pikir, ingatannya kembali ke umur lima tahun lalu kamu mau menunggu sampai lambat laun jiwanya berumur lima belas tahun untuk memulai semuanya dari awal?" kugertak juga akhirnya. "Ini kelainan jiwa sungguhan, bukan yang di film-film. Jiwanya anak kecil sampai mati. Lama-lama bahkan lebih parah, dia pernah minta makan permen lalu lima menit kemudian datang untuk minta permen lagi!"

Aku tahu Dino sekarang memikirkan apa yang kupikirkan; masa depan. Jelas masih terlalu jauh untuknya (dan sebenarnya untukku juga), tapi bagaimanapun keadaan memaksa, dan kini dalam waktu singkat Dino harus mengira-ngira apa yang terjadi lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi? Ia perlu mengesampingkan perasaan dan berpikir rasional, karena bukankah cara pikir lelaki seharusnya seperti itu?

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. "Aku tahu kok," katanya, dan dari segala reaksi yang kubayangkan, aku tak menduga kalimat ini yang keluar dari mulutnya, "aku sudah baca di internet."

Uh-oh, aku nggak mengira yang satu itu. Tiba-tiba perasaan kalah yang seharusnya tak wajar ada menyerangku, menyindir aku yang tidak pernah berani mencari tahu sendiri apa itu penyakit Dita dan ke mana nanti arahnya. Aku membayangkan jadinya, yang dirasa Dino saat mencarinya di internet itu apa?

Aku berdiri saat Dino sudah tidak menambahkan kalimat apa pun. Dino jelas tak tahu lagi harus bagaimana membalas perkataanku sampai pintu di belakang punggungnya diketuk yang membuatnya nyaris terlompat saking kagetnya. Dino berbalik dan membuka pintu, melihat Ibu dan Dita.

"Dita selesai gambar!" adikku itu berujar senang.

"Mana, lihat, lihat!" aku mendekati pintu dan membentangkannya lebih lebar. Dita menyembunyikan kertas di balik punggungnya, lalu berlari seolah tak ingin aku melihat hasilnya, dan dari tawanya aku tahu kalau Dita mengajak main kejar-kejaran. Jelas tidak kuladeni - aku tak pernah suka permainan itu karena susah untukku sengaja melambatkan laju dan tidak menangkapnya.

Aku memanfaatkan kesempatan selagi hanya ada kami bertiga. "Bu, Dino mau pamit. Aku sudah bilang."

Dino mengangkat kepala kaget, baru sadar bahwa usaha Ibu memaksa Dino ke kamarku dengan alasan memakai kaosku hanyalah akal-akalan kami berdua saja. Ini sudah kesepakatanku dan Ibu, untuk tidak menyertakan Dino dalam perjalanan yang berliku nan penuh kesabaran ini. Sekalipun Dino sudah kuanggap adik sendiri, tapi dia bukan bagian dari keluarga kecil kami, dan biarlah aku dan Ibu saja yang melalui semua ini.

Aku tahu di kepala Dino penuh dengan segala macam bentuk pertentangan, antara memenangkan hati atau logika, tapi kini Dino tak bisa berkutik, Ibu sudah memeluk dan mengelus punggungnya. "Makasih sudah nemenin Dita sampai sekarang. Kejar cita-citamu, ya, Le."

Kuantarkan Dino sampai pintu garasi, kubiarkan dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kecelakaan Dita murni kecelakaan; dia yang terlalu lelah dan oleng di tengah jalan. Tak ada yang perlu disesalkan - bahkan kalau pun ada maka akulah yang menanggungnya karena membiarkan Dita pulang duluan tanpa pengawasanku. Dino nggak perlu merasa sebersalah ini.

Aku yakin, jauh di dalam dirinya, sudah ada suara yang memberi tahu bahwa kisah cinta mereka takkan berakhir dengan indah.

Begitu pula kisah ini.

Yesterday I died.
Tomorrow's bleeding.
 Fall into your sunlight.
TAMAT

mimpi

Dream Theme: School-Life

Minggu, Juli 30, 2017

Setelah biasanya aku selalu mimpi kejadian-kejadian mengerikan; entah main bunuh atau tembak-tembakan atau kejar-kenaran, hari ini aku mimpi hal yang ... biasa banget. LOL. Yang bikin sama dari mimpi-mimpiku sebelumnya adalah tokoh-tokoh yang main di sini kalau bukan temen sekelasku, pasti orang yang sama sekali nggak aku kenal.

Kejadiannya di sekolah, entah karena kepengaruh sama seting waktu sekarang yang lagi DBL atau gimana, pulang sekolah jam dua langsung cus ke GOR UNY. Yang angkatan 2017 karena sudah lulus, kita janjian kumpul di sekolah jam dua. Nah, ceritanya dimulai dari aku yang sampai di sekolah 'kepagian', aku sampai di sekolah jam dua belas. Otomatis aku harus nunggu temen-temenku yang belum datang kan, jadi karena gabut, aku yang harusnya nunggu di depan gerbang jadi main-main ke dalam sekolah.

Seting tempatnya jelas SMA 6, tapi gedungnya itu bangunan SD Muhammadiyah Condongcatur (...). Jadi aku jalan-jalan di dalam gedungnya itu, ke lorong kelas satu, ke lorong kelas dua, ruang AVA, ke deretan kelas enam ... tapi posisinya di mimpiku, itu gedung SMA 6 gitu lho. Entah juga kenapa begini.

Terus ada bagian yang aku lupa, tapi intinya aku turun ke koperasi untuk minta plastik kresek. Aku ke koperasi lewat kantin, lalu ketemu lima adik kelas ada di dalam koperasi. Waktu itu penjaganya nggak ada, dan kalau yang jaga nggak ada artinya kita harus ambil sendiri lalu naruh uangnya di wadah. Mereka berlima ini berisik banget LOL, berasa kayak yang punya koperasi aja. Aku awalnya diem kan, pengin ambil plastik terus balik, tapi aku nggak tau plastiknya disimpen di mana.

Aku pengin masuk juga, tapi sudah ada lima anak di dalem yang keruyukan kayak es cendol, dan pintu masuk koperasinya itu harus masuk lewat yang satunya, lewat depan. Jadi aku harus balik lagi, keluar sekolah, lalu ke meja koperasi yang ngehadap selatan. (Ini aku di meja koperasi yang ngehadap barat. Koperasinya bentuk persegi, tapi dari sisi yang aku sekarang ke sisi satunya ada sekat yang bikin aku harus ambil jalan mutar.)

Karena mager, dan toh cuma plastik, jadi aku bilang, "Dek, tolong ambilin plastiknya."

Trus mereka berlima akhirnya diem, salah satu dari mereka coba nyariin aku plastik, dan dua di antara mereka keluar; mungkin baru sadar kalau keroyokan di dalem koperasi itu bikin sesek. Aku nggak gubris yang dua anak ini, tapi begitu mereka ngelewatin aku, yang satu bisik-bisik ke satunya. Aku nangkep satu kalimatnya mereka, "Itu lho, mbaknya yang ikut ekskul jurnalistik."

Etdah memangnya kenapa:)) Aku kan lalu ngelihatin mereka berdua, tapi nggak lama sih soalnya tiga orang yang di dalem koperasi lagi mondar-mandir ke sana-sini. Kirain mereka nyariin aku plastik, jadinya aku diemin. Tapi salah satu di antara mereka bilang, "Di mana ya, si ibu naruh pensil mekaniknya?"

Lah jadi permintaan tolongku itu dikacangin ternyata. Aku nunggu aja sampai lalu aku lihat plastik di dalem, di atas tumpukan karung beras (??) nggak tahu juga kenapa di koperasi jualan karung beras :") Aku mikir, ini mereka bertiga nggak lihat apa ya, jadi aku nunjuk, "Dek, itu plastiknya di situ."

Mereka bertiga diem lalu ngelihatin aku, lalu ngelihatin plastiknya, lalu ngelihatin aku lagi, lalu saling pandang-pandangan. Sumpah ini mereka nggak mau ngambilin plastiknya? Lagian cuma kresek di situ doang. Aku jadinya kesel kan, jadi aku geser mejanya trus masuk koperasi lewat celah sempit antara meja sama tembok. Aku ngelewatin mereka bertiga, ambil sendiri plastiknya, lalu aku bilang, "Nggak jadi Dek, bisa sendiri."

Terus aku keluar lagi, dan lihat dua anak yang di luar koperasi, mereka bareng-bareng bilang, "Naaaaah kan gampang tuh lho ambil sendiri," tapi nggak sadar kalau aku lihatin. Aku jadinya makin kesel, kalau nggak pengin ngambilin tuh ya bilang dari awal, aku nggak masalah. Tapi aku nunggu lama banget cuma demi plastik dan harapan mau diambilkan (?) jadinya kan kagol.

Dua orang itu aku deketin, mereka ini masih kelas sepuluh baru masuk; yap, termasuk dalam kategori tokoh yang blas aku nggak kenal. Langsung tahu deh kalau mau aku marahin, akhirnya aku ajak bicara mereka di bawah tangga mau ke lantai tiga, deket ruang AVA, tempat buat keputrian (kayak mentoring tapi untuk satu angkatan) yang aku selalu menghindari tempat itu setiap Jumat karena nggak mau ketahuan bolos. (...)

Awalnya aku marahin, eh tapi ujung-ujungnya mereka curhat soal MOS. Jadi di hari kesekian MOS, ada kegiatan, kelompok-kelompokan tiga orang, dan mereka diterjunkan ke wahana permainan mengerikan (?), kayak masuk gua, nyeberang jurang satu ke jurang lain pakai ala-ala jembatan dari tali, naik mobil rally di lahan pasir yang debunya ke mana-mana ....... oke, kayaknya mulai nggak waras deh mimpi ini.

Aku prihatin (?) tapi aku juga nggak ngasih saran sih, aku pendengar aja. Tapi yang jelas gara-gara itu seolah kita impas; aku kesel dan mereka ternyata juga punya kisah kekeselan. Jadi sama-sama cerita. Oke, sip, akhirnya mereka balik, dan aku baru sadar kalau sudah jam dua dan artinya aku harus nonton DBL.

Aku langsung kagol karena aku inget sesuatu: ceritanya aku sampai di sini kepagian tuh biar aku sempet nge-LINE temen-temen yang kelihatannya bakal bawa motor, jadi aku tinggal bonceng (padahal posisinya aku nggak bawa helm ... tapi abaikan detail ini). Alhasil aku telat kan, dari lobi, aku bisa lihat sudah banyak motor yang pengendaranya sudah punya pasangan (?).

Entah kenapa di luar lobi, setingnya jadi halamannya SMA 6 lagi. Tapi begitu aku belok kanan, ceritanya mau ke parkiran motor yang ada di deket masjid cowok, tiba-tiba berubah jadi semacam tempat luas untuk festival, ada berbagai stand dan rame banget, mulai nggak jelas lah ini ceritanya dibawa ke mana.

Tapi walaupun sudah seabsurd itu - aku noleh ke belakang udah nggak ada bekas-bekas sekolahnya sama sekali, aku terjebak di suasana festival yang ada bianglala, komedi putar, banyak orang lalu-lalang - fokus dari mimpinya masih belum hilang: aku harus cari anak SMA 6 angkatanku yang belum punya boncengan, dan bareng ke GOR UNY. Berasa jadi kayak misi aja, aku harus cari anak Namche di antara kerumunan orang.

Awalnya aku ketemu Afi lagi jalan sambil makan arum manis, terus begitu aku deketin, ternyata di sebelahnya Afi sudah ada Oca lagi makan arum manis juga. Mereka jelas nggak kayak lagi keburu-buru buat nonton DBL, tapi begitu aku tanya, "Afi, kamu sudah dapet boncengan, ya?" si Afinya jawab, "Iya, Sya, ini aku sama Oca mau ke GOR, aku boncengin dia."

Oke sip, Afi sudah sama Oca boncengan mau ke GOR UNY - yang nggak kayak mau ke GOR UNY karena habis itu mereka berdua tetep jalan santai makan arum manis. Aku hilang lagi di tengah kerumunan, lalu aku nyusurin stand-stand makanan yang ada, begitu sampai di stand sosis bakar, aku ketemu Lisa sama Rani lagi jajan, nungguin penjual yang lagi bikin sosis bakar selesai ngolesin bumbunya.

"Kalian barengan mau ke GOR?" aku tanya kayak gitu barengan sama penjualnya selesai ngasih sosis. Mereka nerima sosisnya terus jawab, "Iya, Ras, ini kita mau ke GOR UNY."

Etdah aku nggak ada temen LOL. Aku ditelan kerumunan manusia dan akhirnya bangun, deh.