video

Tergantung

Rabu, Oktober 04, 2017

Aku sering bingung kenapa orang (aku) bisa sestres itu kalau ada masalah kecil, tapi ada orang (bukan aku LOL) yang bisa sangat santai padahal masalahnya besar. Lalu pemikiran itu ketemu jawabannya; bahwa ternyata orang itu beda-beda, ada yang A ada yang T (plis sya, MBTI banget sih), ada yang bisa tetep tenang ngelihatin orang bakar bendera, ada yang ribut-ribut ikut lari sana-sini berasa jadi orang yang penting aja.

Terus, berkat rekomendasi dari Mas Anas, aku buka channel YouTube-nya JacksGap. Bukan pertama kalinya sih aku stalking-stalking YouTube nyariin anak-anak yang hobinya nge-vlog, tapi pada akhirnya aku mikir lebih asik kalau cari aja di search-nya langsung apa yang mau dibutuhin; rekomendasi wisata, perbedaan aksen Amerika sama Inggris - karena kalau vlog, kan, lebih random jatuhnya.

Biasanya kalau YouTube, aku cuma lihat-lihat AMV (krik), kalau enggak fanvid-nya Sherlock (KRIK), atau yang terbaru tuh ngikutin America's Got Talent sama X Factor UK. Kalau ada peserta yang bagus dan aku suka sampai banget banget, biasanya dengan selo aku cari orang-orang yang nge-react video itu LOL.

Apa lagi ya? Pokoknya aku nonton YouTube itu untuk (1) memenuhi keinginan untuk ber-fangirling (?) misalnya: lihat-lihat kompilasinya Darci Lynne, Angelina Jordan, Grace VanderWaal, Chase Goehring (jebolan Got Talent semua ya, Sya), sampai merembet ke Issy Simpson atau Paul Zerdin (masih Got Talent), atau masih suka nonton ulang audisinya Celine Tam sama finalnya Angelica Hale (masih Got Talent) ... bahkan kalau masih ada waktu aku kadang nonton kompilasi kesarkasmeannya Simon. (..............)

Oh, aku juga nonton Glee. Bagian lagu-lagunya aja sih, dan karena favoritku itu karakter Quinn Fabray sama the Warblers, jadi aku sukanya pas mereka yang nyanyi aja. Quinn bagusnya cuma di I Feel Pretty/Unpretty sama Never Can Say Goodbye, jadi aku sering banget nonton ulang yang itu. The Warblers banyak yang kusuka (...) deleted scene yang I Want You Back aja aku suka (.....). Tapi aku paling suka The Warblers pas Blaine sama Kurt masih ada sih, yang Bills, Bills, Bills.

Dan (2) menambah ilmu pengetahuan (hAHAHA) kalau aku lagi males baca (...). Bukan males sih sebenernya, tapi kalau aku pengin tahu tl;dr-nya aja (TLDR: too long, didn't read -- versi pendeknya) misalnya cerita sejarah kayak Perang Teluk atau apa, nonton infografisnya tuh ada kesan kalau ingatannya bertahan lebih lama gitu. XD (ngeles) Atau, kan aku INFJ-T di MBTI, aku cari-cari info soal INFJ tuh lewat YouTube.

Nah, setelah direkomendasikan, aku akhirnya nonton channel JacksGap. Secara dia dari Inggris, dan aku pengin belajar aksennya sana juga (wAHAHA /SYA), dan aku pengin ke sana juga (aAMIIN), makanya aku dengan semangat ngunjungin channelnya. Scroll agak jauh karena aku pengin nonton dari awal, dan hasilnya ....

... ini balik ke apa yang jadi pemikiranku sebelumnya; soal sikap setiap orang kalau dihadapkan pada suatu permasalahan, apakah mereka stres atau enggak, apakah mereka A atau T. Aku tahu kalau ada beberapa orang yang mereka bisa mengatakan suatu hal begitu berat yang harusnya nggak diucapkan dengan ekspresi sesantai itu, dan aku juga tahu kalau di Britania ada istilah stiff upper lip yang cukup mindblowing sih kalau menurutku; tapi aku pengin bisa kayak gitu, tapi aku nggak nyangka aja aku masih tetep nggak habis pikir waktu contohnya muncul di hadapanku.

Kayak di videonya JacksGap ini.

Jadi, Jack namanya, waktu itu (2011 LOL) dia bikin channel namanya Jack's Gap karena video itu dibikin saat dia gap year - menunda satu tahun untuk kuliah. Dia berkomitmen kalau bakal bikin vlog tiap minggu untuk menceritakan apa yang dia lakukan dari Senin; jadi memotivasi keproduktifan gitu. Aku sendiri setuju sih kalau itu adalah hal yang sangat produktif, dan aksennya dia juga alasan yang bikin aku masih bertahan buat nonton (yHA SYA), jadi aku terus lanjut.

Lama-lama, kan dia cerita soal dia, nih. Kalau dia gap year karena nilainya dia A, A, C -- padahal yang dibutuhkan minimal A, A, B (...). Dia menceritakan gimana perasaannya dia pas nggak bisa lanjut kuliah padahal sudah seharusnya setelah sekolah itu kuliah; tapi detik demi detik selama dia cerita aku cuma bisa ... bingung bagaimana harus bereaksi. :")

As soon as you finish school, and if you don't get into university, suddenly everything sort of falls apart. And everything seems to be unsure. But, yeah, so, I'm sort of in a limbo at the moment; I have no job, no school, no university. Nothing.

Like I could go and shave all my hair off tomorrow, and it wouldn't matter. Like, who would it matter to? Or I could move to India and become a Carthusian monk - right? What would a matter? Maybe my parents would miss me a bit, but that's it. It's kind of a weird thought, so ... yeah.

Apart from being suicidal, I'm fine.


... Apalagi kalimat terakhirnya tuh lho. Sangat ... stiff upper lip, dan entah kenapa aku suka. Itu sangat British sekali ya nggak sih. :")))) (yha) Btw yang mau lihat videonya bisa klik di sini. Ayo kita maraton bersama-sama! XD

puisi

I Hope Life Treats You Kind, (Indonesia)

Minggu, Oktober 01, 2017

Bodoh Amat
Karya: Rasya Swarnasta

Hidup kembali
Bingkai darah pada bangkai
Dingin
Seputih bulan

Sesombong sampah
Sesumbar saja bisa ia
Pada hujan
Mentang-mentang jadi banyak!
Mayat Salemba
Manusia

Sekias merdeka atau mati
Karena kau takbenar ingin mati
Atau merdeka
Lalu mati

Bukan hanya pejabat yang bisa bangsat
Manusia belingsat
Dari darah
Dari Tuhan
Dari firasat

Dasar radikal
Bisanya bakar bendera saja
Hujan juga bisa marah
Kayak hakim
Ancaman tatar celana dalam

Kabur bisa mereka
Kalau bisa!

Bah
Indonesia pada akhirnya tetap Indonesia juga


Yogyakarta, 1 Oktober 2017
10:43

gak berlabel

Gaya Bahasa

Senin, September 18, 2017

Sebenernya gaya bahasa cerpenku tuh, kayak gimana? Aku sering bingung sendiri mikir itu. Padahal aku lebih dulu nulis cerpen daripada nulis puisi, tapi aku udah bisa nebak gaya bahasa puisiku duluan daripada gaya bahasa cerpenku ;;-;;

Di tengah-tengah kegalauan itu, waktu mata kuliah Agama Islam Konstektual, Nail ngajak aku bikin cerpen berantai. Jadi Nail nulis beberapa kalimat, terus aku sambung, terus Nail sambung, gitu terus sampai nanti tamat (atau nggak tamat-tamat?) XD

Nail nulis duluan kan. Kertasnya sudah menghilang entah ke mana sekarang, tapi aku masih inget kalau Nail memulai cerita dengan seting horor; cangkir terguling, genangan kopi .... Aku sering sih bikin cerpen horor, tapi biasanya nggak mulai dari awal horor; mungkin di akhir atau bahkan kusiapkan buat plot twist.

Sekali, aku bikin cerpen horor yang dari awal bANGET udah horor daaaaan aku creepy sendiri selama proses pembuatannya :")) Bikinnya malem-malem, aku mikir kalau kusimpen buat besok pagi kemungkinannya kecil buat kulanjutin, jadi cerpen itu selesai sekali duduk :") Melibatkan fans fanatik, tokoh yang sakit jiwa, minum racun, tangan keluar dari kuburan, endingnya penghapusan eksistensi tokoh utama yang mati--agak klise sih bagian ini soalnya predictable plot buat genre horor o(--(

Terus balik lagi ke cerita. Aku baca dua baris yang udah Nail bikin jadi nostalgia sama cerpen horor pertama (dan terakhir?)ku soalnya. Akhirnya kulanjutin sebisaku kan, yang bikin Nail tambah bingung (.........) karena aku malah merusak (.............) terus ya pokoknya ceritanya berlanjut.

Sampai akhirnya aku sudah nulis lagi, dan Nail baca, dan Nail kayaknya mau menyampaikan sesuatu yang udah lama dia tunda dari tadi, dan mau dia utarakan sekarang, dan itu adalah:

"Sya, kok gaya bahasamu beda sama di cerpenmu biasanya?"

...... hah.

Memangnya gaya bahasa cerpenku kayak gimana. Aku aja nggak tau kalau nulis cerpen biasanya pakai gaya bahasa kayak gimana, dan di sini aku dibilangin kalah gaya bahasaku beda sama biasanya. Itu kejadiannya cepet banget dan ada dua hal yang aku rasain saat itu juga:

Yang satu, rasa seneng. Aku suka akhirnya aku bisa narik kesimpulan kalau genre "horor yang horor dari awal" itu bukan bidang yang aku minati, karena aku lebih suka genre itu horor dengan sendirinya (?) entah karena tokohnya depresi atau punya indera keenam.

Yang kedua, agak kontras sih, rasa sedih (...). Kenapa malah Nail yang bisa nebak gaya bahasaku sebelum aku? Oke, aku dulu pernah ngerasain hal yang sama sih, ada penulis yang cerita-ceritanya aku baca, dia nulis status kalau dia bingung gaya bahasanya dia kalau nulis cerpen gimana, dan aku yang baca statusnya bingung karena itu hal yang nggak perlu dipertanyakan (??).

Pada akhirnya, responsku ke Nail itu berbentuk pengakuan sih, "Soalnya itu bukan genre yang aku bisa sih," dan bukan tanya balik gaya bahasaku memangnya kayak gimana; karena menurutku aku harusnya nemuin itu sendiri. Agak sedih lagi sih aku harus dibeginiin (?) biar ketrigger buat cari tahu XD

Akhirnya aku nemu gaya bahasaku lama-lama, ketika aku maksain diri buat nulis cerpen dan aku nggak sreg dan cerpen yang sudah berlembar-lembar itu langsung kututup tanpa kusave, di situ aku ngerasa nggak membuang apa pun karena toh yang kutulis di situ bukan cerpen yang aku pengenin.

Waktu mata kuliah Ilmu Sastra Umum, aku jadi baru disadarkan kalau cerpen itu nggak bisa dipisahkan sama pengarangnya. Apa pun bedanya cerpen itu sama kehidupan si pengarang (misalnya ada cerpen tentang masa depan Indonesia yang penuh sampah - dalam arti harfiah dan kiasan - kan kita nggak bisa secara gamblang menyimpulkan itu yang diinginkan pengarang, kan?) pasti ada yang mau disampaikan si pengarang dalam cerpen itu. Aku ngerasa klik sih, bagian ini.

Aku nggak bisa menjelaskan gaya bahasaku kayak gimana karena jujur aja aku ngerasanya beda-beda, tapi sebeda apa pun itu, di tengah proses pembuatan cerpenku, aku selalu klik dan pengin ngelanjutin terus sampai tamat, kalau aku ngerasa cerpen yang kubuat itu bisa sebagai perantara apa yang mau aku sampaikan ke dunia. c:

Habis ini bikin cerpen deh.